
Oleh: Eko Sigit Pujianto
IndonesiaBuzz: Sudut Pandang – Pergantian posisi Erick Thohir dari kursi Menteri BUMN ke Menteri Pemuda dan Olahraga menyisakan ruang kosong di kementerian strategis yang mengelola ratusan perusahaan pelat merah. Kekosongan itu menimbulkan pertanyaan siapa sosok yang akan dipercaya Presiden untuk menakhodai Kementerian BUMN?
Di internal, ada tiga nama yang otomatis muncul ke permukaan Kartika Wirjoatmodjo, Aminuddin Maruf, dan Dony Oskaria. Ketiganya saat ini menjabat Wakil Menteri BUMN. Dalam tradisi politik, posisi wamen sering kali dijadikan batu loncatan ke kursi menteri, meski keputusan terakhir tetap di tangan Presiden.
Kartika Wirjoatmodjo barangkali menjadi kandidat paling natural. Latar belakangnya sebagai bankir, mantan Direktur Utama Bank Mandiri, memberi bobot pada kapasitas teknokratis. Di Kementerian BUMN, ia dikenal sebagai sosok yang memahami kompleksitas keuangan korporasi negara. Bila Presiden mengutamakan kesinambungan dan kepastian manajemen, Tiko begitu ia akrab disapa punya peluang besar.
Aminuddin Maruf, di sisi lain, membawa kekuatan politik. Ia dekat dengan lingkaran partai penguasa dan memahami dinamika birokrasi kementerian. Opsi ini bisa menjadi simbol stabilitas, terutama bila Presiden ingin menyeimbangkan kepentingan teknokrasi dengan kebutuhan politik.
Dony Oskaria muncul sebagai nama yang tak bisa diabaikan. Berpengalaman di industri penerbangan dan pariwisata, ia dikenal piawai mengelola bisnis. Namun posisinya sebagai COO Danantara memunculkan keraguan apakah ia bisa sepenuhnya fokus bila dipercaya mengisi kursi menteri?
Di luar nama-nama internal, spekulasi juga beredar tentang figur eksternal. Presiden bisa saja menunjuk profesional dari sektor swasta, mantan direktur utama bank besar, atau bahkan tokoh partai yang dianggap mampu menggerakkan reformasi lebih agresif. Pilihan ini berisiko, tapi bisa menjadi jalan bila Presiden menginginkan gebrakan baru.
Dari semua opsi itu, Kartika Wirjoatmodjo tampak sebagai favorit. Selain punya rekam jejak yang meyakinkan, posisinya sebagai wamen memberinya legitimasi dan akses langsung ke jantung kebijakan BUMN. Transisi pun bisa berjalan mulus tanpa jeda panjang untuk berorientasi.
Pada akhirnya, penentuan siapa yang akan menduduki kursi Menteri BUMN bukan semata perkara teknokrasi, melainkan juga kalkulasi politik. Presiden akan mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan partai, stabilitas koalisi, dan kebutuhan menjaga BUMN tetap produktif. Di sanalah nama Kartika, Aminuddin, maupun figur kejutan dari luar akan diuji.@sigit







