
Oleh: Eko Sigit Pujianto
IndonesiaBuzz: Sudut Pandang – Polda Metro Jaya menangkap WFT (22), pria yang menggunakan akun X @bjorkanesiaa, yang diduga sebagai hacker Bjorka. Penangkapan ini, menurut pengamat keamanan siber Wahyudi, dapat menjadi pintu masuk bagi polisi untuk mengungkap pelaku lain di balik serangkaian peretasan yang menghebohkan publik.
Namun, keraguan muncul di kalangan warganet setelah akun lain, @bjorkanism, mengaku sebagai Bjorka. Akun ini bahkan membocorkan data Badan Gizi Nasional, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang sosok yang sebenarnya ditangkap.
“Di ruang digital, siapa pun bisa mengklaim identitas apa pun. Anonimitas merupakan hal yang biasa,” kata Wahyudi.
Hasil penelusuran menunjukkan WFT, yang juga dikenal sebagai Wahyu Firmansyah Taha, tidak memiliki latar belakang pendidikan teknologi informasi, meskipun memiliki kemampuan meretas. Risna Taha, tante WFT, menyebutkan bahwa keponakannya hanya pernah belajar tata boga di SMKN 3 Manado, Sulawesi Utara.
Fakta terbaru menunjukkan munculnya aksi baru dari hacker yang mengaku sebagai Bjorka. Hacker ini membocorkan data pribadi 341.000 anggota Polri ke publik, termasuk nama lengkap, pangkat, satuan tugas, nomor ponsel, dan alamat email. Data tersebut merupakan arsip lama dari 2016–2017, namun tetap menimbulkan perhatian serius karena menyangkut informasi sensitif.
Pakar keamanan siber Teguh Aprianto menilai, penangkapan WFT hanya menyasar “Bjorka palsu”. Insiden ini menyoroti dua hal penting: lemahnya tata kelola data di institusi negara, serta misteri sosok Bjorka asli yang hingga kini belum terungkap, meskipun pernah membocorkan data KPU hingga informasi kartu SIM.
Penangkapan WFT di Minahasa bukan akhir saga peretasan, melainkan awal babak baru. Aksi hacker yang muncul setelah penangkapan tersebut seolah menjadi “pembalasan” yang memalukan bagi aparat penegak hukum, sekaligus menegaskan risiko besar yang terus mengintai di dunia maya. @sigit







