IndonesiaBuzz : Madiun, Minggu 14 Juni 2026 – Di tengah laju modernisasi kota yang serba mekanis, diskursus mengenai kesejahteraan sebuah wilayah sering kali terjebak hanya pada angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi.
Padahal, bagi masyarakat Jawa Mataraman, indikator kemakmuran yang paling hakiki tidak bersifat materialistik, melainkan bersumbu pada konsep tentrem — sebuah kondisi harmoni kolektif yang mempertemukan ketenangan batin, ketertiban sosial, dan keselarasan ekologis (Moertono, 1981).
Dalam perspektif sosiologi perdesaan, rajutan ketenteraman ini mustahil terwujud tanpa adanya jangkar identitas berupa keterikatan spiritual masyarakat terhadap sejarah dan leluhur pembuka lahannya atau Danyang (Durkheim, 1912).
Di Kelurahan Pangongangan, Kota Madiun, tesis ini menemukan bukti empirisnya yang paling terang melalui eksistensi Punden Nyai Ageng Ronje.
Secara historis-geopolitik, wilayah Pangongangan tidak lahir dari kalkulasi tata ruang modern, melainkan berdiri di atas tanah yang sejak semula diyakini memancarkan energi spiritual (yoni) yang sangat tinggi.
Jauh sebelum pusat pemerintahan Kabupaten Madiun dipindahkan dari Kutho Miring ke lokasi saat ini, para tetua adat dan ahli nujum kraton melakukan laku tirakat untuk mencari koordinat bumi terbaik yang mampu memancarkan wibawa kekuasaan sekaligus mengayomi rakyat (Adam, 1940: 333).
Pilihan jatuh pada wilayah ini karena tanah di sekitar makam purba Nyai Ageng Ronje dinilai memiliki karakteristik lemah sangar yang telah dijinakkan menjadi hawa sejuk yang menenteramkan (Moertono, 1981).
Nyai Ageng Ronje sendiri ditransmisikan dalam memori kolektif sebagai tokoh leluhur berwibawa yang memiliki laku spiritual tinggi dalam “meronce” keharmonisan, sehingga kawasan makam beliau memancarkan energi bumi yang subur dan protektif (Pemerintah Kota Madiun, 2014).
Prosesi pembacaan isyarat gaib alam tersebut mula-mula diawali berjalan dari titik makam kuna Nyai Ageng Ronje yang bertindak sebagai axis mundi atau pusat poros jagat (Adam, 1940: 333).
Dari koordinat sakral inilah, para sesepuh melakukan aktivitas “ngongak” — atau menengok, mengintip, dan memantau pancaran aura spiritual tanah serta jatuhnya cahaya gaib wahyu kedaton (Pemerintah Kota Madiun, 2014).
Energi supranatural tingkat tinggi di punden ini dikenali dari suasananya yang magis namun meneduhkan, sebuah prasyarat mutlak dalam kosmologi Jawa agar sebuah pusat kekuasaan tidak dilingkupi hawa panas konflik (Moertono, 1981). Karena wilayah di sekitar makam Nyai Ageng Ronje terbukti memancarkan gelombang gaib pelindung yang mampu meredam marabahaya, maka kawasan strategis ini resmi ditempati menjadi kompleks pusat pemerintahan bupati. Aktivitas metafisika ngongak itulah yang kemudian mengabadi menjadi nama Pangongangan. (*)







