IndonesiaBuzz: Yogyakarta , 3 Februari 2025 – Pedagang mengeluhkan sepinya kondisi Teras Malioboro Beskalan, Kota Jogja. Atas kondisi itu, pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Tridarma kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (3/2/2025).
Ketua Koperasi Tridarma, Arif Usman, menjelaskan bahwa beberapa hari pascarelokasi dari Teras Malioboro 2 ke Teras Malioboro Ketandan dan Beskalan, para pedagang diwajibkan membuka lapaknya. Pedagang yang tidak segera membuka lapaknya akan mendapatkan Surat Peringatan (SP).
“Padahal kenyataannya kita tahu sendiri bahwa di Beskalan itu akses menuju ke lapak-lapak kami masih sangat minimalis. Dari pintu utara, belakang ramai itu belum jadi sama sekali. Selama sepekan bahkan 20 hari tidak ada pelaris,” ujarnya dilansir dari Espos.
Karena akses dari pintu utara belum rampung, satu-satunya jalur masuk pengunjung adalah melalui Teras Malioboro 1. Hal ini, menurutnya, membuat banyak pengunjung enggan masuk ke Teras Malioboro Beskalan.
“Jadi pengunjungnya masih sangat minim. Yang kami pertanyakan, apa urgensinya kami harus buru-buru pindah ke sana?” katanya.
Ramainya wisatawan yang berlibur ke Jogja pada long weekend Isra Mikraj dan Imlek pun tidak mendatangkan pembeli yang signifikan ke Teras Malioboro Beskalan.
“Sama sekali tidak berimbas. Libur Imlek kemarin pedagang tidak merasakan efeknya,” paparnya.
Dia berharap pemangku kebijakan mau melihat langsung kondisi para pedagang yang kesulitan mendapatkan penghasilan dari Teras Malioboro Beskalan. Ia menegaskan bahwa penyediaan tempat saja tidak cukup, tetapi pemerintah juga harus memperhatikan nasib pedagang.
“Apakah mereka bisa makan, apakah jualannya laku, dan sebagainya,” ujar dia.
Para pedagang semestinya dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan yang berdampak kepada mereka.
“Karena kami yang tahu pasar, tahu medan. Kami yang akan menempati tempat itu. Kalau disediakan sangkar emas tapi tidak ada makanan di dalamnya, tidak akan ada burung yang mau masuk,” ujarnya.
Salah satu pedagang di Teras Malioboro Beskalan, Suparjilah, mengaku belum membuka lapaknya sejak relokasi dan karena itu mendapatkan SP.
“Kalau saya belum buka dari pertama, kemarin dikasih SP dari pengelola. Saya bilang, ‘jalannya aja belum jadi kok dikasih SP’,” ungkapnya.
SP tersebut meminta pedagang segera membuka lapaknya. Namun, hal itu tidak lantas membuatnya membuka lapak.
“Karena dagangan belum saya tata, pajangannya belum jadi. Jalannya untuk akses masuk juga belum jadi,” katanya.
Selain itu, ia juga mengeluhkan ukuran lapak yang jauh lebih kecil dibandingkan lokasi lama.
“Tidak manusiawi. Berjejer-jejer, 70 x 100 cm, lebih kecil dari lapak sebelumnya yang 120 x 120 cm,” ujarnya.
Respons Pemkot Jogja
Sebelumnya, Pj Wali Kota Jogja, Sugeng Purwanto, menjelaskan bahwa Kota Jogja saat ini telah memiliki destinasi baru, yakni Teras Malioboro Ketandan dan Teras Malioboro Beskalan. Di kedua lokasi tersebut, wisatawan bisa berbelanja berbagai barang mulai dari kerajinan, fesyen, hingga kuliner.
Pemkot Jogja pun senantiasa mempromosikan keberadaan dua lokasi baru Teras Malioboro tersebut. Salah satunya dengan menggelar berbagai event yang diharapkan dapat menarik wisatawan dan berdampak positif bagi pedagang.
“Ke depan kami memang berencana menggelar berbagai event di Teras Malioboro sebagai bagian dari upaya mempromosikan kawasan tersebut,” katanya.







