IndonesiaBuzz: Sudut Pandang – Di tengah teriknya matahari dan kerasnya jalanan, rakyat Pati turun tangan atau lebih tepatnya turun kaki menggalang dukungan, bersuara, berjuang.
Sementara itu, entah di mana para anggota dewan yang katanya “wakil rakyat”.
Bukankah mereka adalah representasi suara rakyat? Kalau begitu, mestinya mereka berdiri di garis depan perjuangan, bukan bersandar di kursi empuk ruang ber-AC sambil menunggu giliran bicara di sidang paripurna. Tapi nyatanya, rakyat yang berjuang, ya tetap berjuang sendiri.
Lalu untuk apa kita punya anggota dewan, kalau saat rakyat butuh, mereka menghilang seperti sinyal internet di pelosok desa?
Kemana janji-janji manis kampanye yang dulu mereka taburkan, lengkap dengan senyum lebar di baliho? Apakah janji itu ikut terbang bersama balon saat pesta kemenangan?

Keranda Mayat Warnai Aksi Demo di Pati, Simbol Mati Rasa Wakil Rakyat
Jabatan itu bukan singgasana, dan wakil rakyat bukan gelar kebangsawanan.
Kalau mereka lupa, kita wajib mengingatkan dengan satir yang cukup pedas untuk membakar lidah, dan cukup panas untuk membuat hati yang mendengar tidak nyaman.
Pertanyaannya sederhana: untuk apa negara menggaji anggota dewan, jika ketika rakyat berjuang, mereka memilih menghilang?@sigit







