IndonesiaBuzz: Historia – Komunitas Pegiat Sejarah Boyolali, mBo’ja Lali, bekerja sama dengan Boyolali Book Club (BBC), menggelar kegiatan walking tour bertajuk mBo’ja Lali Walk di kawasan Pengging, Kecamatan Banyudono, Minggu (22/6/2025) pagi. Puluhan peserta dari berbagai komunitas sejarah dan masyarakat umum ikut menjelajahi jejak peradaban yang tertinggal dari era klasik Hindu-Buddha hingga kolonial Belanda.
Koordinator mBo’ja Lali, Ody Dasa Fitranto, menjelaskan kegiatan tersebut dirancang sebagai media pembelajaran sejarah berbasis literasi dan observasi langsung di lapangan. “Kami ingin mengenalkan sejarah Boyolali secara menyeluruh, dari babad hingga catatan kolonial, melalui kunjungan ke lokasi dan penceritaan dari para narasumber,” ungkapnya.
Rangkaian tur dimulai dari kompleks makam Yasadipura I, lalu peserta menelusuri berbagai situs penting seperti bendungan dan aquaduct bekas jalur distribusi air industri kolonial, cerobong pabrik (dikenal sebagai “pipa”) di depan SDN 2 Jembungan, hingga batu Yoni di Dukuh Bantulan. Selain Ody, narasumber lain yang juga memberikan penjelasan sejarah adalah Yoga Wahyudhi, warga asli Banyudono sekaligus anggota mBo’ja Lali.
Selama perjalanan, peserta diajak memahami konteks sejarah masing-masing situs:
- Era Hindu-Buddha: Yoni Bantulan, Yoni Pasar, dan cagar budaya Umbul Pengging.
- Era Islam: Makam tokoh-tokoh penting seperti Yasadipura I, serta Masjid Cipto Mulyo dan Pesanggrahan Ngeksipurna.
- Era Kolonial: Peninggalan pabrik nila (indigo), eks rumah sakit, serta struktur pengairan kuno.
“Di sisi timur SD Jembungan bahkan ditemukan batu Yoni yang menjadi bukti aktivitas keagamaan era klasik di kawasan ini. Sedangkan Alun-alun Pengging yang dulunya dikenal sebagai Pasar Candirejo, diduga merupakan lokasi sakral dan terdapat cagar budaya,” jelas Ody.
Perjalanan juga menyambangi Pesanggrahan Ngeksipurna, yang dahulu menjadi tempat peristirahatan Raja Kasunanan Surakarta, PB X, serta ditutup kembali ke kompleks makam Yasadipura, di mana peserta diperkenalkan pada tradisi pemakaman, arsitektur nisan, hingga tokoh-tokoh yang dimakamkan di sana.
Menurut Ody, keberadaan situs-situs tersebut menjadi bukti bahwa Pengging telah dikenal sejak abad ke-9 Masehi, berdasarkan prasasti era Rakai Garung dari Kerajaan Mataram Kuno. Pengging tetap memainkan peran penting dalam sejarah hingga era Kerajaan Islam dan masa kolonial Belanda.
Salah satu peserta asal Klaten, Riska Dwi Astuti (18), mengaku sangat antusias mengikuti tur ini. “Baru pertama kali ke Pengging. Biasanya cuma dengar dari cerita orang. Hari ini bisa lihat langsung, belajar sejarahnya juga,” ujar Riska yang mengetahui acara tersebut dari Instagram.







