Indonesiabuzz: Tehnologi – Indonesia resmi mencatatkan diri sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki sistem rudal balistik modern. Langkah ini menandai babak baru dalam sejarah pertahanan nasional sekaligus mengirim sinyal kuat bahwa dinamika keamanan kawasan memasuki era baru.
Rudal balistik taktis KHAN buatan Roketsan, Turki, menjadi pintu masuk Indonesia ke teknologi ini. Pemesanan dilakukan pada November 2022, dan kehadiran platform peluncurnya di pangkalan TNI AD Kalimantan Timur kini sudah terkonfirmasi.
Tak berhenti pada impor, Indonesia juga mengembangkan RX-450, rudal balistik buatan dalam negeri dengan jangkauan uji awal 100 km dan target peningkatan hingga 250 km. Dalam pameran Indo Defence 2025, terungkap rencana kerja sama produksi bersama Roketsan untuk perakitan, produksi, dan pemeliharaan teknologi rudal di Indonesia.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi ketergantungan pada negara Barat dan memperluas kemitraan dengan negara seperti Turki dan India. Modernisasi juga berjalan di sektor udara dan laut, termasuk pengadaan jet tempur Rafale (2022), F-15EX (2023), jet siluman KAAN (2025), serta keterlibatan dalam pengembangan KF-21 bersama Korea Selatan.
Indonesia sedang menjajaki pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos (India–Rusia) untuk versi darat dan laut, dengan nilai potensial US$200–350 juta atau 3,2 triliun. Meski demikian, Kementerian Pertahanan menegaskan belum ada keputusan final.
Pengamat menilai, akuisisi rudal balistik berpotensi memicu perlombaan senjata di ASEAN, mendorong negara-negara lain untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka. TNI AD sendiri melihat teknologi ini sebagai bagian dari doktrin operasi amfibi masa depan.
Rangkuman Taktis:
Impor: Rudal KHAN (jangkauan ±280 km) dari Turki
Pengembangan Lokal: RX-450 (target 250 km), kerja sama produksi dengan Roketsan
Kerja Sama Global: BrahMos (India–Rusia), status pembicaraan
Strategi Nasional: Diversifikasi alutsista, kemandirian teknologi, modernisasi lintas matra
Dampak Regional: Potensi perubahan doktrin dan perlombaan senjata
Indonesia kini berada di titik penting sejarah pertahanan nasional—memadukan teknologi luar negeri dan inovasi dalam negeri. Pertanyaannya, langkah ini akan menjadi perisai stabilitas kawasan, atau pemicu babak baru rivalitas militer di Asia Tenggara? (red)







