Indonesiabuzz.com : Redaksi, 29 Januari 2026 – Maraknya kasus korupsi di Indonesia yang terjadi di berbagai lini pemerintahan maupun swasta, membuat redaksi ingin sedikit mengulik tentang penyebab orang memutuskan untuk korupsi, dilihat dari sisi psikologi.
Karena keberanian untuk melakukan korupsi bukan cuma soal hukum lemah atau sistem buruk, tapi juga pola pikir, emosi, dan budaya mental yang terbentuk lama.
Berikut ini 7 penyebab orang memutuskan melakukan korupsi di lingkup yang memang memungkinkan dirinya untuk berkorupsi :
1. Normalisasi perilaku menyimpang.
Secara psikologis, orang cenderung meniru lingkungan. Ketika korupsi dianggap sebagai “hal biasa”, atatu dengan pemikiran “semua juga melakukan”, maka otak berhenti untuk memberi alarm moral. Hal ini membuat rasa bersalah menjadi tumpul dan empati pun melemah.
2. Mentalitas “kesempatan” (opportunity mindset).
Banyak pelaku korupsi yang sebenarnya tidak berniat untuk korup, namun godaan muncul saat ada peluang. Psikologi menyebut ini ‘situational ethics’ :
“Kalau tidak ketahuan dan semua aman, kenapa tidak?”
3. Distorsi kognitif (pembenaran diri).
Ketika dorongan untuk melakukan korupsi mulai timbul dalam diri, pelaku sering menciptakan alasan untuk membenarkan perbuatan yang ingin dia lakukan, seperti :
“Gaji saya kecil”
“Saya juga berjasa disini”
“ah…ini cuma sedikit”
Ini disebut ‘self-justification’, mekanisme otak agar tidak merasa bersalah.
4. Keserakahan yang dipicu perbandingan sosial.
Mmelihat kolega yang bisa hidup mewah dapat memicu rasa iri, takut tertinggal, dan juga karena tekanan status. Psikologi sosial menyebut ini ‘relative deprivation’ (merasa kurang, meski sebenarnya sudah cukup).
5. Rendahnya kontrol diri & impulsivitas.
Korupsi sering terjadi karena tidak mampu menunda kesenangan dan/atau lemah dalam pengendalian dorongan dari dalam diri sendiri. Orang dengan self-control rendah lebih mudah tergoda uang cepat dibanding risiko jangka panjang.
6. Kekuasaan merusak empati (power effect).
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa semakin tinggi kekuasaan, empati akan cenderung menurun.
Pelaku akan mulai melihat uang negara sebagai hak, fasilitas jabatan dan bukan lagi milik rakyat.
7. Hukuman yang tidak menimbulkan efek psikologis takut.
Karena hukuman yang ringan, bahkan bisa mendapatkan remisi, masih bisa hidup nyaman, maka rasa takut psikologis tidak akan terbentuk. Otak hanya belajar satu hal, yaitu resikonya kecil, tapi untungnya besar.
Melihat dan mendengar berbagai kasus korupsi di negeri ini, menurut kamu, nomor berapa yang paling banyak menjadi pendorong bagi pejabat untuk korupsi ? (Ananda-Red)







