IndonesiaBuzz: Travel & Staycation – Di tengah hiruk pikuk aktivitas belajar mengajar di SDN Panjunan 2 Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah ruang unik yang tak biasa dijumpai di sekolah dasar lain. Ruangan itu disulap menjadi museum kecil bernama Museum 13 dibaca Museum Satu Tiga yang menyimpan berbagai koleksi fosil purba hasil penemuan lokal.
Museum ini berdiri berkat tangan dingin Hary Nugroho, seorang guru sekaligus pecinta kepurbakalaan yang telah menekuni dunia paleontologi amatir sejak akhir 1980-an. Menurutnya, nama Museum 13 memiliki makna filosofis mendalam.
“Satu itu melambangkan Tuhan Yang Maha Esa, sementara tiga menggambarkan proses kehidupan lahir, hidup, dan mati,” jelas Hary, Rabu (8/10/25).
Hary mendirikan museum tersebut pada tahun 1989, berawal dari penemuan fosil pertamanya di wilayah Bojonegoro. Berbekal peta geologi, ia dan rekan-rekannya kerap menjelajahi sejumlah titik potensial, seperti Desa Drenges dan Kali Gandong di Kecamatan Sugihwaras, Desa Pragelan di Kecamatan Gondang, serta Desa Wotanngare di Kecamatan Kalitidu.
Kegiatan mereka dikenal dengan istilah “nggladak”, yaitu berburu fosil secara komunal di lapangan.
“Istilah ‘nggladak’ itu kami pakai saat mencari dan menyelamatkan fosil purba. Dulu saya awalnya cari batu akik, tapi malah menemukan fosil gigi dan kaki gajah. Dari situ ketertarikan terhadap fosil mulai tumbuh,” ujarnya.
Namun, perjuangan Hary tidak selalu mulus. Ia harus bersaing dengan para pemburu fosil liar yang sering menjual temuannya untuk keuntungan pribadi.
“Kendalanya ada pada ‘kolekdol’ koleksi tapi di-dol (dijual). Kami kalah cepat dalam penyelamatan penemuan bersejarah karena sebagian orang memilih menjual demi kebutuhan ekonomi,” ungkapnya.
Selama lebih dari tiga dekade, Hary telah mencatat banyak penemuan penting. Pada tahun 2022, misalnya, ia dan tim menemukan 79 spesies moluska serta fosil gading Stegodon Trigonochephalus Ivory berukuran 42 x 9 cm di wilayah Ngluyu, Rejoso, Nganjuk. Sebelumnya, pada 2016, ia juga menemukan bagian femur gajah purba di Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, dengan estimasi usia 300 ribu hingga 10 ribu tahun.
Dalam pengelolaannya, Museum 13 mendapat dukungan konservasi dari Museum Geologi Bandung dan Museum Sangiran, Sragen. Lewat kerja sama ini, Hary memperoleh banyak ilmu tentang teknik pemetaan dan observasi lapangan yang lebih ilmiah.
Tak hanya menjadi ruang pamer, museum ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi. Hary aktif melibatkan para siswa SD dalam kegiatan ekskavasi sederhana dan pengenalan batuan. “Anak-anak ikut ‘nggladak’, mereka senang dan punya pengetahuan dasar tentang batuan. Ini cara kami menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah,” pungkasnya.
Museum 13 kini menjadi oase pengetahuan di tengah lingkungan sekolah dasar, sekaligus bukti nyata bahwa pelestarian sejarah dan pendidikan bisa berjalan beriringan bahkan dari ruang kelas sederhana di pelosok Bojonegoro. (M. Tohir/Koresponden Bojonegoro)







