IndonesiaBuzz: Klaten, 8 Agustus 2025 – Melanjutkan rangkaian acara mengambil uborampe guna persiapan Hajad Dalem Bethak (adang) tahun Dal 1959 dalam tahun Jawa. Atas titah raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat SISKS Pakoe Boewono dan Permaisuri Kraton Surakarta GKR Pakoe Boewono.
Utusan Dalem Kraton Surakarta Hadiningrat yang dipimpin Kanjeng Raden Aryo (KRA) Saryono Citronagoro, dan di ikuti abdi dalem Paguyuban Kusumo Handrawina cabang Klaten melaksanakan ngupadi Siti (mengambil tanah) di makam Sunan Pandanaran (Bayat), Kamis (7/8/25) siang.
Prosesi dimulai dengan penyampaian dhawuh (titah) dari SISKS Pakoe Boewono XIII kepada ulama Kraton Surakarta hadiningrat, untuk memberikan doa kepada tokoh leluhur Raja-raja Mataram Islam. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan ziarah makam. Puncak prosesi adalah pengambilan tanah dari halaman makan Sunan Pandanaran.
KRA Saryono Citronagoro selaku utusan dalem Kraton Kasunanan Hadiningrat, mengungkapkan bahwa atas perintah SISKS Pakoe Boewono XIII mengutus utusan dalem untuk melaksanakan pengambilan tanah di bumi tembayat untuk melengkapi umborampen persiapa n Hajad dalem Bethak (adang).
“Kami selaku utusan dalem SISKS Pakoe Boewono XIII, hari ini melaksanakan pengambilan tanah di bumi tembayat ini sebagai sarana uborampe (perlengkapan) Hajad Dalem Bethak atau yang biasa disebut adang,” ujarnya kepada IndonesiaBuzz.
Ia menambahkan dalam puncak prosesi yakni adang (menanak nasi) oleh SISKS Pakoe Boewono XIII tersebut menggunakan dandang peninggalan leluhur Kyai Ageng Tarub.
”Nantinya saat prosesi puncak Hajad Dalem Bethak (Adang) akan menggunakan alat berupa dandang yang dahulu pernah dipakai Kyai Ageng Tarub dan dipakai dalam prosesi adang setiap tahun Dal dalam kalender Jawa dari Pakoe Boewono yang pertama hingga yang bertahta sekarang, ” tambahnya.
Pelaksanaan prosesi ngupadi siti di makam Sunan Pandanaran menegaskan komitmen Kraton Surakarta dalam melestarikan tradisi leluhur. Selain menjadi bagian dari rangkaian ritual sakral, kegiatan ini juga memperkuat hubungan spiritual antara raja, rakyat, dan bumi.
“Tradisi seperti ini tidak hanya milik Kraton, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya bangsa. Kami berharap generasi muda dapat mengenal dan memahami makna di balik setiap prosesi,” pungkas pria yang akrab dipanggil kanjeng Sar.
Kegiatan ini sebagai wujud bentuk menjaga keseimbangan alam untuk kemuliaan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hajad Dalem Bethak atau Adang merupakan tradisi kuno Kraton Surakarta yang digelar sebagai wujud rasa syukur atas keberlimpahan hasil bumi sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi rakyat. Dalam falsafah Jawa, siklus delapan tahun atau windu dianggap sebagai satu putaran waktu yang utuh dan sempurna, sehingga momen tahun Dal menjadi sangat sakral. @eko-m







