IndonesiaBuzz: Ekonomi & Bisnis – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump terpilih untuk periode kedua diprediksi membawa dampak positif bagi Indonesia. Kebijakan tarif impor sebesar 25% yang diterapkan Trump mendorong sejumlah perusahaan untuk keluar dari China dan mencari lokasi baru, termasuk di Indonesia.
Dengan potensi ini, Indonesia diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi sekaligus memperkuat posisinya dalam dinamika ekonomi global yang terus berubah akibat perang dagang AS-China.
Executive Director Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Juliani Kusumaningrum, menyatakan bahwa perang dagang AS-China bukan fenomena baru dan diperkirakan akan terus berlanjut. Menurutnya, berbagai sektor industri telah terdampak kebijakan tarif impor AS sejak lama, dengan besaran yang berkisar antara 10% hingga 25%.
“Perang dagang ini sudah terjadi sebelum Trump menjabat. Ke depan, situasi ini kemungkinan besar akan tetap sama,” ujar Juliani, Senin (3/3/2025).
Juliani menegaskan bahwa Indonesia harus siap menangkap peluang dari relokasi perusahaan, tidak hanya dari China, tetapi juga dari negara lain. Ia menilai daya tarik Indonesia semakin kuat karena produk yang diproduksi di Tanah Air tidak dikenai tarif tambahan saat diekspor ke AS.
“Keuntungan bagi Indonesia adalah produk kita tidak terkena tarif tambahan saat masuk ke pasar AS,” jelasnya.
Dengan populasi mencapai 280 juta jiwa, Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi investor, terutama dari sisi pasar domestik. Saat ini, fase pertama KEK Kendal seluas 1.000 hektare telah terisi 90%. Untuk mengakomodasi investor baru, pemerintah merencanakan pengembangan fase kedua dengan luas 1.200 hektare.
Kepala Administrator KEK Kendal, Tjertja Karja Adil, menegaskan bahwa kondisi ini menjadi peluang besar bagi Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah investor asing telah menyatakan minatnya untuk merelokasi pabrik dari China ke Indonesia.
“Kami melihat ini sebagai berkah. Setelah Trump kembali menjabat, beberapa investor asing datang ke kantor kami dan menyampaikan rencana relokasi pabrik mereka dari China ke KEK Kendal,” ujarnya dalam media gathering di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2025).
Menurutnya, perusahaan yang tetap bertahan di China akan menghadapi tarif tinggi saat mengekspor produknya ke AS. Hal ini mendorong investor mencari lokasi baru yang lebih menguntungkan, salah satunya di Indonesia.
Dengan tren relokasi industri yang terus meningkat, Indonesia berpeluang besar menjadi tujuan investasi utama di kawasan Asia Tenggara. Namun, kesiapan infrastruktur, regulasi yang ramah investasi, serta insentif fiskal yang kompetitif akan menjadi faktor penentu dalam menarik lebih banyak perusahaan global.







