IndonesiaBuzz: Magetan, 16 Oktober 2025 – Jagat maya tengah ramai memperbincangkan pamflet misterius bertajuk “Undangan Terbuka! Dukun, Tokoh Spiritual & Paranormal Selingkar Lawu.” Acara bertema doa bersama untuk keselamatan alam ini dijadwalkan berlangsung di kawasan Cemorosewu, Gunung Lawu, pada Jumat Legi, 24 Oktober 2025 mendatang.
Namun di balik kesan spiritualnya, undangan tersebut ternyata memuat pesan kuat: “Doa Bersama demi Kelestarian Gunung Lawu & Tolak Eksploitasi Alam!” Isinya diduga menjadi bentuk protes halus terhadap rencana eksplorasi panas bumi (geotermal) di wilayah Gunung Lawu yang belakangan ramai dibahas publik.
Pamflet yang beredar luas di grup WhatsApp dan media sosial itu menampilkan ilustrasi orang orang berbusana adat duduk melingkar di depan api unggun dengan latar Gunung Lawu yang gagah. Visual dan pesan spiritualnya langsung menarik perhatian netizen. Banyak yang menyebutnya sebagai “bisikan lembut dari lereng Lawu” simbol seruan rohani agar alam tidak dieksploitasi secara berlebihan.
“Lawu bukan sekadar gunung, tapi dunia spiritual. Kalau diganggu proyek raksasa, wajar kalau warga resah,” tulis seorang pengguna X (Twitter).
Sebagian warganet lain menilai undangan itu sebagai gerakan elegan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus menghidupkan kembali nilai nilai spiritual Jawa. Kini pesan tersebut telah menjalar ke komunitas spiritual di wilayah Magetan, Karanganyar, hingga Tawangmangu.
Gunung Lawu sejak lama dikenal sebagai salah satu gunung paling sakral di tanah Jawa. Beragam legenda dan keyakinan menyebutnya sebagai tempat semedi, ziarah, dan pertemuan antara manusia dengan alam dan leluhur. Tiap tahun, ribuan peziarah mendatangi Candi Cetho, Sendang Drajat, hingga petilasan Prabu Brawijaya untuk berdoa dan bermeditasi.
“Lawu bukan sekadar sumber air dan udara, tapi juga sumber energi rohani,” tutur Mbah Kati, tokoh Kejawen dari Magetan. Ia menegaskan, masyarakat spiritual Lawu merasa resah dengan isu geotermal. Jumat (17/10/25)
“Kata leluhur dulu, yen bumi simaringi, bumi dilarani, bumi sing ngadili. Artinya, jika bumi yang memberi kehidupan disakiti, maka ia akan murka,” ujarnya lirih.
Menurutnya, kerusakan alam tak hanya mengancam ekosistem, tapi juga memutus hubungan spiritual yang telah dijaga turun temurun.
Menanggapi keresahan tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya buka suara. Mereka menegaskan proyek panas bumi yang sedang dibahas berada di wilayah Jenawi, Kabupaten Karanganyar bukan di inti kawasan Gunung Lawu yang disakralkan.
“Kawasan suci Lawu sudah dicoret dari daftar wilayah kerja geotermal sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan nilai spiritual masyarakat,” jelas pernyataan resmi Kementerian ESDM.
Proyek yang disebut “Jenawi Geothermal” itu merupakan bagian dari 10 inisiatif energi hijau nasional yang dilelang pemerintah tahun ini. Meski begitu, masyarakat lingkar Lawu berharap langkah pembangunan tetap memperhatikan keseimbangan ekologi dan spiritual.
Bagi warga di kaki Lawu, gunung ini bukan sekadar sumber energi, melainkan sumber kehidupan dan makna. “Kalau alam rusak, bukan cuma udara yang hilang, tapi juga jati diri manusia,” kata seorang warga Lembeyan.
Kini, semua mata tertuju ke lereng Lawu. Di antara kabut tipis dan udara dingin Cemorosewu, para penjaga spiritual bersiap menyalakan api doa sebuah simbol bahwa pembangunan boleh berjalan, tapi tidak dengan mengorbankan ruh alam. (Agus Pujiono /Koreponden Magetan)







