IndonesiaBuzz: Opini – Di Pati, sebuah babak baru panggung politik lokal berlangsung dengan aroma klasik, penguasa yang merasa dirinya lebih tinggi dari rakyat yang dipimpinnya. Protes warga soal kenaikan fantastis PBB-P2 bukan hanya diabaikan, tetapi dibalas dengan nada tinggi, potongan kalimat yang meremehkan, dan gesture arogan yang menandakan “aku penguasa, kalian bawahan.”
Awalnya, di hadapan ratusan warga, suara bupati dan Plt Sekda terdengar mantap, bahkan menantang seakan-akan mereka bisa menghadapi gelombang massa berapa pun jumlahnya. Tapi seperti semua cerita satir, ada babak pembalikan, ketika 5.000 warga benar-benar turun, lalu bayangan 50.000 massa membentang di depan mata, nyali itu tak lagi sebanding dengan nada tantangan yang dulu diucapkan.
Arogansi yang tadinya ingin menundukkan rakyat justru menjadi bahan bakar solidaritas. Warga kompak mengalirkan donasi air minum tanpa henti, membuat barisan massa tetap tegak. Di jalan-jalan, terlihat galon dan kardus air seperti aliran sungai yang terus menghidupi gelombang manusia. Sementara di panggung kekuasaan, mereka yang dulu berbicara lantang mulai terlihat gelisah, tatapannya tak lagi menantang, tetapi mencari celah aman di balik meja rapat.
Ironinya, di ruang-ruang politik, keberanian kadang hanya sebesar volume suara di mikrofon bukan sebesar nyali ketika berhadapan langsung dengan rakyat yang bersatu. Dan di Pati, kita baru saja menyaksikan bagaimana “penguasa” bisa bertransformasi dari singa podium menjadi kucing basah saat ombak rakyat benar-benar datang.@sigit







