IndonesiaBuzz: Fashion – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan bahwa sektor fesyen kini menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi kreatif di Jawa Timur. Dalam keterangannya saat menghadiri gelaran Fashionology 2025 di Surabaya, Minggu (8/6), Emil menyebutkan bahwa sektor ini menyumbang hampir 10 persen dari total nilai tambah ekonomi kreatif Jatim yang mencapai Rp300 triliun pada 2023.
“Ekonomi kreatif pada tahun 2023 memberikan nilai tambah Rp300 triliun di Jawa Timur. Hampir 10 persennya berasal dari sektor fesyen,” ujar Emil seperti dilansir dari Antara.
Emil menambahkan bahwa fesyen tak hanya menjadi representasi identitas budaya, namun juga memberi kontribusi nyata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta penciptaan lapangan kerja. Ia menyebut kontribusi sektor fesyen Jawa Timur terhadap ekonomi kreatif nasional mencapai 20,85 persen, jauh di atas capaian nasional yang berada di angka 14 persen.
“Ekraf ini akan semakin maju kalau ada kolaborasi bersama. Kita sering dengar triple helix: perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha. Apalagi kalau lulusan dari perguruan tinggi bisa mengembangkan merek mereka sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim Arumi Bachsin Emil Dardak menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan sektor fesyen. Menurut Arumi, kolaborasi antara lembaga pendidikan dan industri kreatif lokal adalah kunci dalam mencetak desainer muda yang berdaya saing tinggi.
“Kami menyadari bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai pusat inovasi dan kreativitas. Kolaborasi ini tidak hanya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi, tetapi juga menciptakan sinergi antara dunia akademik dan industri kreatif lokal,” jelasnya.
Arumi menambahkan bahwa fesyen merupakan subsektor unggulan dalam ekonomi kreatif karena kemampuannya menyerap tenaga kerja muda, meningkatkan daya saing produk lokal, serta mengangkat budaya dan kearifan lokal Jawa Timur.
Program-program kolaboratif yang digagas mencakup lokakarya desain fesyen, pameran karya mahasiswa, kompetisi desain busana berbasis sastra daerah, hingga pelatihan kewirausahaan kreatif. Semua ini bertujuan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan memastikan adanya regenerasi pelaku industri fesyen di Jawa Timur.
“Dekranasda Jatim akan terus membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai pihak, terutama lembaga pendidikan, untuk memastikan regenerasi pelaku ekraf terus berjalan dan memberi dampak positif bagi perekonomian daerah,” pungkas Arumi.







