IndonesiaBuzz: Nusantara – Gunung Lawu Bukan sekadar gunung tinggi di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia adalah altar raksasa bagi kisah-kisah gaib, tempat bertemunya alam nyata dan alam halus. Jalur candi Cetho merupakan salah satu pilihaan kami untuk menapaki jalur menuju puncaknya ditemani sosok yang tak biasa Jalak Lawu.

Kicauannya terdengar nyaring, namun berbeda—bagai mantra tua yang menggema dari masa silam. Dialah burung penjaga, yang dalam kepercayaan leluhur dipercaya sebagai perwujudan dari makhluk astra pelayan raja-raja yang pernah bertapa di gunung ini.
Semenjak kami melangkah dari pos Cetho, Jalak Lawu muncul, terbang rendah lalu menghilang di balik kabut. Arah langkah kami seolah dipandu tanpa kompas, tanpa peta. Burung itu hadir… lalu menghilang… namun terasa dekat, mengawasi.
Penduduk sekitar meyakini, Jalak Lawu bukanlah burung biasa. Ia bisa membaca hati pendaki. Yang berniat buruk akan dibuat tersesat, atau bahkan ‘diambil’ oleh penjaga tak kasat mata. Tapi yang tulus, yang datang dengan hormat, akan dilindungi… dan dibukakan jalan.
Salah satu warga yang kami temui di basecamp berkata:
“Kalau sampean lihat Jalak Lawu ngikutin dari awal sampai puncak, berarti sampean tamu yang ditunggu. Tapi ingat, jangan sembarangan bicara atau berlaku. Gunung ini masih hidup.”
Langit mendung menggantung, kabut semakin tebal. Di tengah sunyi, terdengar lagi suara itu—”cak… cak… cak…”—tak jauh dari tenda kami. Hening sejenak, bulu kuduk meremang. Seolah ada yang sedang memperhatikan… bukan hanya dari atas ranting, tapi dari dunia lain.
Gunung Lawu tak hanya menyimpan keindahan. Ia menyimpan rahasia. Dan Jalak Lawu… bukan sekadar burung. Ia adalah tanda. Bahwa di sini, manusia harus menunduk pada alam, dan berjalan dengan jiwa bersih.
Pendakian di Gunung Lawu bukan hanya tentang kaki yang kuat, tapi hati yang rendah. Dan jika Anda mendengar suara Jalak Lawu saat mendaki… mungkin, Anda sedang dilihat… atau diundang… oleh penjaga gaib Sang Lawu. (sigit IB)







