IndonesiaBuzz: Nusantara – Di jantung peradaban Jawa kuno, khususnya pada masa Singhasari dan Majapahit, terdapat sebuah tradisi spiritual yang mendalam dan radikal: Tantrayana.
Jauh dari sekadar filsafat pinggiran, Tantra berfungsi sebagai ideologi negara, memberikan legitimasi kosmik, dan, dalam kasus tertentu, menjadi penyebab kerentanan fatal bagi raja-raja yang memeluknya.
“Membahas tentang Tantra berarti kita menyelisik masa ketika ritual yang dianggap tabu pada masa ini, seperti konsumsi intoksikan dan praktik sensual, namun pada masa itu menjadi jalan utama bagi elit penguasa untuk mencapai kekuatan spiritual absolut,” ujar KP. Hari Andri Winarso Wartonagoro, Pendiri Indonesian Center for Esoterics and Metaphysical Studies (ICEMS).
Sinkretisme Śiwa-Buddha Vajrayana
Menurut KP. Andri, secara etimologi Tantra diartikan sebagai “yang membebaskan” (trae-da) atau “pengetahuan yang menyebar” (tan/tantri). Praktik Tantra mulai menyebar di Nusantara sekitar abad ke-7.
Kehadirannya pertama kali ditandai dengan ditemukannya kata Vajrasarira dalam Prasasti Talangtuwo di Sriwijaya pada tahun 684 Masehi. Tradisi Buddhisme Esoteris ini terintegrasi erat dengan Vajrayana India Kuno dan menyebar melalui jalur perdagangan maritim.
“Di Jawa, khususnya sejak masa Singhasari, Tantrayana menyatu secara canggih dengan tradisi Śaiwa, melahirkan ideologi kenegaraan Śiwa-Buddha Vajrayana,” jelas KP. Andri. “Penyatuan ini merupakan strategi politik penting untuk mengonsolidasikan kekuasaan,” imbuhnya.
Dokumen tekstual Majapahit, seperti Kakawin Sutasoma, secara resmi menyatakan kesatuan tertinggi antara Śiwa dan Buddha, yang kemudian terangkum dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika.
Sinkretisme ini terukir monumental dalam arsitektur Jawa:
- Borobudur (abad ke-9) dibangun sebagai Mandala raksasa tiga dimensi, merepresentasikan kosmologi Buddhisme Esoteris.
- Candi Sukuh (abad ke-15) menunjukkan pengaruh Tantra yang kuat, menampilkan relief Ganacakra yang sering dikaitkan dengan ritual di lapangan mayat (charnel grounds).
Pemujaan Śakti dan Bhairawa
“Doktrin Tantrayana Jawa berpusat pada pencapaian kekuatan spiritual (siddhi) melalui pemujaan energi ilahi feminin, yang disebut Śakti,” terang KP. Andri.
Lebih lanjut, pakar metafisika yang juga kerabat Kraton Surakarta itu menjelaskan, prinsip utamanya adalah: “Tanpa śakti, dewa sekalipun tidak dapat berbuat dan menciptakan sesuatu”. Keyakinan ini mendorong penganut sekte Tantra-Bhairawa untuk lebih mengedepankan pemujaan pada Dewi, yang menyediakan landasan teologis untuk mengangkat status Ratu atau energi feminin dalam diri Raja.
Pencapaian spiritual tertinggi Tantra adalah kemanunggalan (kesatuan mutlak), yang tingkat tertingginya disebut Nirguna-Tantra. Ini adalah keadaan di mana identitas individu melebur sepenuhnya, dan segala sesuatu bersatu dalam sunya atau suwung (Kesadaran Semesta yang Kosong). Untuk mencapainya, penganut melakukan berbagai teknik esoteris, termasuk Yoga, samadhi, pengucapan mantra, dan penggunaan alat bantu visual seperti yantra, seperti bindu (titik pusat dunia) yang terpahat pada tembaga Kaduluran (885 Masehi).
Kultus Bhairawa
Salah satu praktik paling ekstrem di Jawa adalah Kultus Bhairawa, perwujudan Śiwa yang menakutkan, yang terkait erat dengan Tantra Kiri (Wamacara atau pangiwan). Raja-raja besar mengadopsi ajaran ini untuk mempersonifikasikan kekuatan kekaisaran yang absolut.
Ikonografi Bhairawa secara visual mendukung klaim kekuasaan tertinggi ini. Replika arca Bhairawa perwujudan Raja Adityawarman, misalnya, digambarkan memegang mangkuk berisi darah manusia di tangan kirinya dan pisau belati di tangan kanannya, berdiri di atas mayat dengan singgasana dari tengkorak kepala manusia.
Praktik ini menunjukkan bahwa raja, melalui ritual radikal, mampu melampaui rasa takut, menetapkan dirinya sebagai entitas menakutkan yang mengendalikan hidup dan mati.
Skandal Pancamakara dan Tragedi Kertanagara
Ritual inti dari Tantra Kiri adalah Pancamakara, juga dikenal sebagai Mo-Limo atau Cakra Puja. Ritual ini bertujuan mencapai pembebasan spiritual tertinggi dengan memaksa penganutnya untuk menghadapi dan menaklukkan tabu sensualitas.
Lima elemen utamanya adalah:
- Mamsa (daging)
- Matsya (ikan)
- Madya (minuman keras/alkohol)
- Maithuna (persetubuhan sepuas-puasnya)
- Mudra (bersemedi atau sikap ritual)
Dalam konteks Mamsa, ajaran Bhairawa bahkan dikenal melibatkan konsumsi daging; sekte Aghori di India, misalnya, masih mempraktikkan ritual memakan daging manusia tertentu yang telah meninggal untuk membantu mencapai moksa. Ritual yang sangat transgresif ini sering dilaksanakan di ksetralaya (lapangan mayat), yang juga dikenal sebagai tralaya di era Majapahit.
Kematian Raja Singhasari
Raja Kertanagara dari Singhasari adalah penganut terkemuka Tantra Kiri. Keruntuhan Singhasari pada 1292 Masehi memiliki kaitan langsung dengan praktik ritual ini. Kertanagara dilaporkan tewas di tangan pasukan Jayakatwang dari Kediri ketika ia sedang mengadakan “pesta miras”, sebuah bagian eksplisit dari ritual pemujaan Bhairawa yang dianutnya.
Fakta bahwa raja dan pejabat istana sedang terlibat dalam ritual yang membutuhkan konsumsi intoksikan (Madya) saat diserang menunjukkan bahwa komitmen radikal terhadap pencapaian Nirguna-Tantra menempatkan keamanan politik negara pada posisi sekunder, sebuah kerentanan strategis yang fatal.
Ajaran Rahasia: Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan
Keberadaan dan sifat Tantra di Jawa diperkuat melalui sumber sastra kuno, seperti kitab Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan. Naskah Buddhis Nusantara ini secara terbuka menyatakan bahwa isinya memuat Tantra.
Pentingnya kitab ini terletak pada sifat ajarannya: rahasia dan tidak dapat diakses atau dipelajari oleh sembarang orang. Kerahasiaan tekstual ini merupakan strategi untuk mempertahankan hierarki sosial-politik; mengontrol akses ke ajaran Tantra berarti mengontrol akses ke kekuatan kosmik, yang menjamin status elit penguasa dan deifikasi raja.
Naskah ini membahas metode untuk mencapai siddhi melalui Kriyatantra, menekankan Jalan Besar (Mahayana Suci) untuk kebahagiaan universal.
Jejak Abadi: Warisan dalam Kebatinan Jawa
Meskipun ritual eksternal Tantra yang radikal semakin ditinggalkan dari praktik publik, aspirasi spiritual batinnya tetap hidup dalam mistisisme Jawa, yang dikenal sebagai kebatinan atau Kejawen.
Tradisi ini berfokus pada pencapaian ketenangan batin dan hubungan langsung dengan Yang Maha Kuasa, yang merupakan kelanjutan dari pencarian kemanunggalan Tantrik.
Menurut KP. Andri, masyarakat Jawa modern cenderung menjauhi praktik Tantra yang radikal, bahkan menganggapnya sebagai “ajaran menyesatkan”. Namun, beberapa praktik kebudayaan Jawa, seperti kenduri atau slametan, yang melibatkan sesaji (persembahan) makanan (seperti Ségo wuduk) hingga kini masih menunjukkan kesinambungan pola ritual Jawa kuno.
“Kontinuitas ini membuktikan bahwa budaya Jawa adalah sintesis yang terus-menerus berdialog dengan tradisi esoteris kuno, di mana pencarian kemanunggalan tetap menjadi inti spiritualitas meskipun bentuk ritualnya telah jauh berubah,” pungkas Wakul Direktur Utama Indonesiabuzz.com itu. @indonesiabuzz







