IndonesiaBuzz: Ngawi, 27 Agustus 2025 – Cacing tanah yang kerap dianggap menggelikan oleh sebagian orang, justru menjadi sumber penghasilan besar bagi warga Desa Banget, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi. Desa yang berada di perbatasan Ngawi Madiun ini kini dikenal sebagai kampung budidaya cacing dengan omzet ratusan juta rupiah setiap panen.
Salah satu peternak, Sadiun (63), warga Dusun Ngadipahit, mengaku awalnya beralih ke ternak cacing karena sawahnya tidak produktif untuk ditanami padi. Ia mulai membudidayakan cacing jenis fosfor dengan memanfaatkan blotong atau ampas tebu sebagai media.
“Dulu sawah ini saya tanami padi, tapi sering gagal panen karena hama. Akhirnya saya coba ternak cacing, ternyata lebih menguntungkan. Perawatannya mudah, hanya menyiapkan lahan, blotong dari pabrik tebu, disiram air, lalu ditaburi benih cacing,” ujar Sadiun, Selasa (27/8/25).
Dengan ketelatenan selama 11 tahun, kini dari tiga petak sawah miliknya, Sadiun mampu menghasilkan rata-rata 150 kilogram cacing setiap panen. Dengan harga jual Rp35 ribu per kilogram, ia bisa meraup Rp5,25 juta per panen, meski harus dipotong biaya produksi.
“Dulu harga cacing per kilo bisa sampai Rp100 ribu, sekarang tinggal Rp35 ribu. Meski turun, saya tetap bersyukur karena masih menguntungkan,” tambahnya.
Keberhasilan Sadiun menginspirasi warga lainnya untuk ikut mengembangkan usaha serupa. Kini, Desa Banget tercatat memiliki 53 peternak dengan total lahan budidaya mencapai 10,5 hektar. Dari lahan tersebut, setiap panen mampu menghasilkan sekitar 7,3 ton cacing.
“Kalau dikalkulasi, produksi itu setara Rp250 juta dalam sekali panen. Tidak hanya sawah, warga juga memanfaatkan pekarangan rumah untuk budidaya cacing,” jelas Sekretaris Desa Banget, Tomi Yudo Nugroho.
Potensi besar ini membuat warga berharap adanya perhatian dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dukungan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas produksi serta memperluas pasar budidaya cacing tanah asal Ngawi. (Esaputra/Koresponden Ngawi)







