IndonesiaBuzz: Karanganyar – Di antara pepohonan Alas Krendowahono, doa-doa mengalun dalam prosesi adat yang telah bertahan selama ratusan tahun. Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, Senin (12/10/2026) siang. Upacara ini menjadi pelaksanaan perdana pada era kepemimpinan SISKS Pakoe Boewono XIV.
Kraton menggelar ritual tersebut atas titah raja di Alas Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Lebih dari sekadar upacara adat, Mahesa Lawung menyimpan jejak panjang perjalanan spiritual masyarakat Jawa.
Tradisi ini menjadi bagian dari ikhtiar Kraton untuk memohon keselamatan bagi raja, keluarga besar kerajaan, dan seluruh rakyat. Di balik rangkaian sesaji dan doa, tersimpan pula pandangan tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Suasana hutan yang tenang mengiringi prosesi. GKR Alit selaku Pengageng Keputren Kraton, KGPH Adipati Dipokusumo, serta lebih dari seratus Abdi Dalem dan Sentono Dalem mengikuti upacara tersebut. Pembacaan doa dan sejarah singkat Mahesa Lawung melengkapi rangkaian ritual.
Pengageng Parentah Kraton Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo, menjelaskan bahwa Mahesa Lawung memiliki akar sejarah panjang. Tradisi ini merekam pertemuan berbagai lapisan kepercayaan yang berkembang dalam sejarah masyarakat Jawa.
“Wilujengan Nagari Mahesa Lawung adalah tradisi adat yang telah dilaksanakan selama ratusan tahun. Pada masa sebelum Kerajaan Demak, kegiatan ini dikenal dengan sebutan Sesaji Raja Weda dan Sesaji Raja Surya, yang berhubungan dengan ajaran agama Hindu,” terangnya.
Sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi bertahan di tengah perubahan zaman. Kraton tidak hanya menjaga tata cara ritual, tetapi juga meneruskan pengetahuan dan nilai yang menyertainya.
Bagi Dipokusumo, Mahesa Lawung juga menyampaikan pesan tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Hutan bukan sekadar tempat berlangsungnya upacara, melainkan ruang kehidupan yang perlu dijaga keseimbangannya.
“Makna dari tradisi ini adalah pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam, melestarikan lingkungan, serta menghormati kehidupan hewan di hutan,” tambahnya.
Mahesa Lawung termasuk satu dari sepuluh jenis wilujengan atau upacara adat Kraton yang berkaitan dengan berbagai unsur kehidupan. Unsur tersebut meliputi bumi, gunung, laut, tanaman, hewan, hingga iklim.
Ritual ini mencerminkan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus kesinambungan nilai spiritual dari generasi ke generasi. Dalam konteks itu, pelestarian tradisi tidak berhenti pada pelaksanaan upacara. Generasi penerus juga perlu memahami alasan dan nilai di baliknya.
Dipokusumo berharap Mahesa Lawung terus menjadi bagian dari kehidupan budaya Kraton Surakarta. Ia ingin generasi mendatang mengenal tradisi ini bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai warisan yang memiliki makna bagi kehidupan masa kini.
“Ke depannya, semoga tradisi ini tetap lestari di Kraton Kasunanan Surakarta dan generasi penerus dapat mengerti makna dan tujuan diadakannya Mahesa Lawung,” tutupnya.
Pelaksanaan perdana pada era PB XIV pun menandai keberlanjutan salah satu tradisi penting Kraton Surakarta. Di tengah perubahan zaman, Mahesa Lawung mengingatkan bahwa warisan leluhur tidak hanya berbicara tentang kebesaran kerajaan. Tradisi ini juga menyimpan pesan tentang kesadaran spiritual, penghormatan terhadap alam, dan tanggung jawab manusia menjaga keseimbangan kehidupan.@eko-m







