IndonesiaBuzz: Wonogiri, 13 Oktober 2026 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda Indonesia di panggung internasional. Hana Loka Kusuma Prameswari, dara asal Wonogiri, Jawa Tengah, berhasil meraih Juara 3 dalam Young Leaders Speak-Up Forum tingkat Asia Pasifik pada ajang Asia Pacific Leaders Summit (APLS) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Forum kepemimpinan tersebut berlangsung pada 24 hingga 26 September 2026 dan diikuti 25 pemimpin muda dari 11 negara. Dalam ajang ini, Hana mengangkat gagasan mengenai peran seni dan budaya lokal sebagai sarana pendidikan, pemberdayaan generasi muda, serta penguatan identitas budaya.
Capaian tersebut menempatkan Hana sebagai salah satu delegasi Indonesia yang berhasil menunjukkan gagasan kepemimpinan berbasis seni dan budaya di forum internasional.
Bawa Gagasan Seni dan Budaya Lokal ke Panggung Asia Pasifik
Dalam Young Leaders Speak-Up Forum, setiap delegasi mendapat kesempatan menyampaikan gagasan melalui pidato individual. Para peserta didorong mengangkat isu seputar kepemimpinan, inovasi, keberlanjutan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Hana memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyoroti potensi seni dan budaya lokal sebagai medium pembelajaran, pengembangan kreativitas, serta kolaborasi generasi muda.
Menurut Hana, seni tidak semata-mata menjadi objek pertunjukan atau warisan yang dipertahankan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun kepercayaan diri, mengenali identitas, dan mengembangkan kemampuan bekerja sama.
Gagasan tersebut dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 11 mengenai kota dan komunitas yang berkelanjutan.
“Saya percaya seni dan budaya bisa menjadi bagian dari pendidikan generasi muda. Ketika anak muda diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan budayanya, mereka juga sedang membangun identitas, kreativitas, dan kemampuan untuk berkolaborasi,” kata Hana dikutip Selasa (13/10/26).
Dalam kompetisi tersebut, delegasi Nigeria meraih juara pertama, disusul delegasi Kamboja di posisi kedua. Sementara itu, Hana berhasil menempati posisi ketiga melalui gagasan yang menempatkan seni dan budaya sebagai bagian dari pengembangan kepemimpinan generasi muda.
Perkenalkan Tari Merak Indonesia dalam Pertukaran Budaya
Selain berkompetisi menyampaikan gagasan, Hana turut memperkenalkan kekayaan seni pertunjukan Indonesia dalam rangkaian pembukaan APLS 2026.
Ia membawakan Tari Merak Indonesia dalam sesi cultural exchange atau pertukaran budaya. Penampilan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan salah satu bentuk seni tari Indonesia kepada delegasi dari berbagai negara.
Tak hanya menampilkan gerakan tari, Hana juga menjelaskan latar belakang dan inspirasi budaya di balik pertunjukan yang dibawakannya. Tarian tersebut terinspirasi dari Tari Merak Sunda karya Raden Tjetje Somantri dan Tari Merak Subal Surakarta karya S. Maridi.
Bagi Hana, memperkenalkan budaya tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan. Pemahaman mengenai sejarah, nilai, dan identitas yang terkandung di dalamnya juga menjadi bagian penting dalam membangun apresiasi lintas budaya.
“Saya ingin memperkenalkan budaya Indonesia bukan hanya melalui pertunjukan, tetapi juga melalui cerita di baliknya. Ketika kita memahami sebuah karya budaya, kita juga belajar memahami nilai dan identitas yang ada di dalamnya,” ujar Hana.
Melalui penampilan tersebut, Hana membawa seni dan budaya Indonesia ke ruang perjumpaan internasional. Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan bagaimana kesenian dapat menjadi sarana komunikasi yang menghubungkan generasi muda dari latar belakang budaya berbeda.
Bangun Jejaring Internasional Bersama Pemimpin Muda dari 11 Negara
Asia Pacific Leaders Summit 2026 diselenggarakan oleh Asia Pacific Leaders Initiative di bawah Studec International. Kegiatan ini mempertemukan 25 pemimpin muda dari Indonesia, Tajikistan, Senegal, Malaysia, Kamboja, Jepang, Timor-Leste, Brunei Darussalam, Pakistan, Thailand, dan Nigeria.
Selama tiga hari pelaksanaan, para delegasi mengikuti berbagai agenda, mulai dari konferensi kepemimpinan, proyek kelompok, Young Leaders Speak-Up Forum, pertukaran budaya, hingga kegiatan jejaring internasional.
Rangkaian kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk bertukar perspektif, mengembangkan kemampuan komunikasi, membangun kolaborasi lintas negara, serta memahami tantangan yang dihadapi generasi muda di berbagai lingkungan sosial dan budaya.
Bagi Hana, partisipasi dalam APLS 2026 bukan hanya tentang meraih penghargaan, tetapi juga kesempatan untuk memperluas pemahaman mengenai kepemimpinan dan memperkenalkan potensi seni budaya Indonesia kepada dunia.
Prestasi yang diraih di Kuala Lumpur ini sekaligus menegaskan bahwa seni dan budaya dapat menjadi bagian dari percakapan global mengenai pendidikan, keberlanjutan, dan pemberdayaan generasi muda.
Melalui gagasan dan penampilannya, Hana membawa pesan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada upaya menjaga tradisi. Seni dan budaya juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan gagasan baru, memperkuat identitas generasi muda, serta membangun kolaborasi yang melampaui batas negara. (@yudi S/Koresponden Wonogiri)







