IndonesiaBuzz: Ngawi, 7 Oktober 2026 – Pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV Jawa Timur 2026 tinggal sekitar satu bulan. Sebagai tuan rumah, Kabupaten Ngawi dituntut memastikan seluruh persiapan matang, mulai dari venue pertandingan, akomodasi kontingen, kebersihan, hingga kecukupan anggaran.
DPRD Ngawi pun mulai memperketat pengawasan. Komisi III DPRD Ngawi menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Ngawi, Rabu (7/10/2026).
Rapat yang berlangsung di ruang Komisi III tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi III DPRD Ngawi, Soeradji. Sejumlah persoalan persiapan menjadi sorotan, terutama kesiapan venue dan fasilitas pendukung yang akan digunakan ribuan atlet serta ofisial dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Soeradji menegaskan, menjadi tuan rumah tidak cukup hanya memastikan pertandingan berjalan. Ngawi juga harus mampu memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada seluruh kontingen yang datang.
“Kalau ada kendala, apa yang menjadi kendala tadi sudah dilaporkan dengan baik. Masalah anggaran juga insyaallah tercukupi, jadi semua atlet bersama ofisial nanti siap bertanding di POPDA,” ujar Soeradji seusai RDP.
Venue dan Penginapan Jadi Sorotan
Komisi III memberikan perhatian khusus terhadap kesiapan venue. Pemeriksaan nantinya tidak hanya menyangkut kelayakan lokasi pertandingan, tetapi juga kebersihan dan fasilitas pendukung di sekitar venue.
Soeradji meminta seluruh tempat penginapan, baik hotel, penginapan maupun homestay, segera dipastikan kesiapannya.
“Venue harus dicek, penginapan apalagi kebersihan. Kita jadi tuan rumah itu tidak segampang itu. Hotel, penginapan biasa maupun homestay harus disiapkan betul dan segera dicek,” tegasnya.
DPRD juga berencana melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke sejumlah venue dalam waktu dekat. Pemeriksaan akan dilakukan bersama pihak terkait untuk memastikan fasilitas pertandingan benar-benar siap sebelum digunakan.
“Kita tetap ada sidak ke venue-venue. Nanti kita bareng-bareng melihat venue seperti sepak bola, voli dan lainnya. Kita tuan rumah harus betul-betul siap, jangan sampai ada kendala, apalagi sampai memalukan,” ujarnya.
Jumlah Atlet Membengkak, Anggaran Perlu Ditambah
Di tengah persiapan tersebut, persoalan anggaran menjadi salah satu perhatian. Disparpora Ngawi mengungkap adanya kebutuhan tambahan dana setelah jumlah atlet yang lolos seleksi melebihi kuota awal.
Kepala Disparpora Ngawi Wiwien Purwaningsih mengatakan, semula anggaran disiapkan untuk sekitar 250 atlet. Namun, hasil seleksi menetapkan sebanyak 304 atlet yang akan memperkuat kontingen Ngawi.
“Karena kami hanya mengalokasikan untuk 250 atlet, kemudian hasil seleksi ternyata 304 atlet. Itu akan kami koordinasikan dengan Badan Keuangan untuk penambahan anggaran,” jelas Wiwien.
Tambahan anggaran yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp115 juta.
Meski terjadi penambahan jumlah atlet, Disparpora memastikan seluruh atlet hasil seleksi tetap akan diberangkatkan. Keputusan tersebut diambil karena Ngawi berstatus sebagai tuan rumah.
“Petunjuk Pak Sekda dan Pak Bupati, semua atlet dikirimkan, mumpung ini di tuan rumah sendiri. Kami memang tidak mengizinkan atlet berangkat mandiri karena nanti menjadi tidak enak sebagai tuan rumah,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, kebutuhan anggaran penyelenggaraan POPDA diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,9 miliar, dengan kebutuhan tambahan sekitar Rp100 juta lebih untuk menyesuaikan jumlah atlet yang diberangkatkan.
UMKM Diminta Ikut Menikmati Dampak POPDA
Tak hanya persoalan venue dan anggaran, DPRD Ngawi juga mendorong agar gelaran olahraga pelajar tingkat Jawa Timur tersebut memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
Komisi III meminta pelaku UMKM dan ekonomi kreatif lokal dilibatkan di sekitar lokasi pertandingan.
“Masalah venue harus betul-betul disiapkan, termasuk kebersihan. UMKM juga harus dilibatkan di tempat-tempat venue, harus ada UMKM-nya,” kata Soeradji.
Masukan tersebut mendapat respons positif dari Disparpora. Wiwien mengatakan pelibatan pelaku ekonomi kreatif memang telah masuk dalam rencana penyelenggaraan.
“Masukan dari Komisi III kami terima. Memang sudah kami rencanakan. Pelaku ekonomi kreatif bisa dilibatkan, misalnya dengan menyediakan tenda-tenda di setiap venue maupun di Alun-Alun,” katanya.
Dengan demikian, POPDA tidak hanya diharapkan menjadi ajang kompetisi olahraga pelajar, tetapi juga menjadi momentum untuk menggerakkan aktivitas ekonomi lokal.
Target Ngawi Tembus 15 Besar
Dari sisi persiapan, Disparpora mengaku telah melakukan berbagai langkah, mulai dari koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, penyiapan akomodasi, koordinasi dengan KONI, hingga proses seleksi atlet.
Sebagai tuan rumah, Ngawi juga memasang target prestasi. Kontingen daerah tersebut ditargetkan mampu menembus 15 besar klasemen POPDA XV Jawa Timur.
“Targetnya paling tidak kita masuk 15 besar provinsi,” ujar Wiwien.
Dengan jadwal pembukaan pada 6 November 2026, waktu persiapan kini semakin terbatas. DPRD Ngawi memastikan pengawasan akan terus dilakukan, termasuk turun langsung ke sejumlah venue untuk melihat kesiapan fasilitas.
Status sebagai tuan rumah membuat Ngawi tidak hanya mengejar prestasi di arena pertandingan. Daerah ini juga harus membuktikan mampu menyelenggarakan POPDA secara tertib, nyaman, bersih, sekaligus memberikan kesan positif bagi ribuan pelajar dan ofisial yang akan datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur. (Esaputra /Koresponden Ngawi).
