
Oleh: Eko Sigit Pujianto
IndonesiaBuzz: Sudut Pandang – September 1965 bukan hanya tentang sebuah pemberontakan yang gagal. Ia adalah fragmen dari permainan kekuasaan yang lebih besar, di mana ideologi, ambisi pribadi, dan kepentingan global bersinggungan. Gerakan 30 September (G30S/PKI) kerap diceritakan sebagai upaya Partai Komunis Indonesia menggulingkan Presiden Soekarno. Namun, membaca peristiwa itu dengan kacamata geopolitik, narasinya menjadi jauh lebih kompleks.
Di satu sisi, Soekarno tengah menyeimbangkan pengaruh dunia menolak dominasi Amerika Serikat, namun menjalin hubungan dengan blok Soviet dan Tiongkok. Ia mengusung konsep Nasakom, menyatukan nasionalis, agama, dan komunis. Di sisi lain, Amerika dan sekutunya melihat ancaman potensial Indonesia, dengan kekuatan politik yang besar, bisa menjadi simpul strategis bagi pengaruh komunis di Asia Tenggara. Dokumen-dokumen yang muncul kemudian menimbulkan dugaan bahwa agen-agen CIA aktif memantau dan memanipulasi situasi politik lokal untuk melemahkan Soekarno.
Di tengah pusaran ini, Soeharto muncul sebagai aktor kunci. Dalam narasi resmi Orde Baru, ia tampil sebagai penyelamat bangsa dari kudeta komunis. Dalam perspektif kritis, muncul dugaan bahwa ia menjadi perpanjangan tangan kepentingan asing, memanfaatkan krisis internal untuk menggulingkan Soekarno dan meredam pengaruh PKI. Tak hanya itu, tokoh-tokoh pergerakan kiri dimobilisasi atau dihilangkan untuk mengamankan narasi bahwa negara “diselamatkan”.
Pertarungan ini bukan hanya soal ideologi, tapi juga strategi global. Soviet, yang mendukung PKI secara ideologis, dan Amerika, yang ingin mengekang pengaruh komunis, sama-sama memiliki kepentingan di Indonesia. Para aktor lokal, dari militer hingga elite politik, menjadi pion dalam permainan yang lebih besar dari sekadar persaingan internal. Setiap langkah, setiap penangkapan, bahkan setiap kematian, menyisakan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang menggerakkan benang di balik layar.
Sebagai penulis, menelaah G30S/PKI berarti menembus lapisan narasi resmi. Tidak cukup hanya menyalahkan satu pihak. Ada kekuatan global, ambisi pribadi, dan ketakutan ideologis yang bersinggungan, membentuk tragedi yang meninggalkan luka mendalam pada masyarakat Indonesia. Memahami kompleksitas ini penting, bukan hanya untuk menagih keadilan sejarah, tetapi juga untuk memahami bagaimana geopolitik bisa menembus kehidupan sehari-hari sebuah bangsa.@sigit







