Oleh KP. Hari Andri Winarso Wartonagoro
(Wakil Direktur Utama/Direktur Operasional PT Sunan Nusantara Media · Jurnalis · Sentana Dalem Kraton Kasunanan Surakarta)

IndonesiaBuzz: Opini – Bulan Sura, dalam kalender Jawa, bukan sekadar masa yang disebut wingit atau keramat. Ia adalah cermin—bagi raja, abdi dalem, dan rakyat—untuk menengok kembali hakikat pengabdian, keberanian, dan dharma. Di tahun Warsa Dal 1959 (2025 Masehi) ini, Kraton Surakarta Hadiningrat kembali mengangkat lakon agung “Babad Alas Wanamarta” dalam Hajad Dalem Ringgitan Tutup Wulan Sura.
Sebagai seorang Sentana Dalem, sekaligus insan media dan jurnalis, saya merasakan bahwa lakon ini bukan hanya cerita pewayangan, tetapi sebuah refleksi batin.
Pandawa: Cermin Kepemimpinan dan Laku Pasrah yang Aktif
Dalam lakon ini, para Pandawa Lima menerima keputusan yang tidak adil: hanya diberi hutan angker Wanamarta, bukan separuh kerajaan Hastina. Tapi alih-alih menggugat atau membalas, mereka memilih jalan Narima ing Pandum, membuka hutan, dan membangun Amarta dengan keringat dan jiwa.
Sebagai abdi dalem, ini adalah pelajaran agung: kita tidak selalu mendapat tempat terhormat, tetapi kita bisa membuat tempat itu menjadi terhormat. Di tengah dunia modern yang serba instan dan kompetitif, Babad Alas Wanamarta mengingatkan bahwa pengabdian sejati bukan tentang posisi, tetapi tentang kontribusi dan ketulusan laku.
Membuka Hutan dalam Diri Sendiri
Hutan Wanamarta dalam cerita bukan hanya hutan fisik. Ia adalah simbol dari ketidaktahuan, kemalasan, ego, dan kebencian. Maka ketika para Pandawa membabat alas, sejatinya mereka juga membuka hutan dalam dirinya sendiri—menebas angkara murka dan menanam benih peradaban.
Sebagai bagian dari kraton dan dunia media, saya meyakini bahwa bangsa ini sedang berada dalam proses babad alas kolektif. Kita sedang berjuang menebas hutan-hutan yang menutupi nilai luhur: kejujuran, welas asih, tanggung jawab. Dan untuk itu, kita perlu meneladani Pandawa: berani, sabar, dan bersatu dalam tugas besar membangun peradaban jiwa.
Arimbi: Wujud Kebaikan yang Sering Kita Takuti
Lakon ini juga mengajarkan betapa sering kita menolak kebaikan hanya karena rupanya tidak sesuai harapan. Arimbi, seorang raksasi berhati mulia, menyelamatkan Bima dari maut. Tapi karena rupanya buruk, ia dihindari. Baru setelah mendapatkan restu dari Kunti, wujudnya berubah menjadi cantik—padahal sejak awal, jiwanya sudah terang.
Di zaman yang diliputi obsesi pada citra dan kemasan, Arimbi mengajarkan bahwa keindahan sejati tumbuh dari ketulusan. Dan bahwa tugas kita sebagai insan budaya adalah membuka mata masyarakat untuk mengenali cahaya dalam sosok-sosok yang selama ini disingkirkan.
Semar: Punakawan adalah Guru yang Disamar
Sebagai abdi dalem, saya merasa dekat dengan figur Semar. Di tengah ketegangan dan peperangan, Semar hadir sebagai suara kebijaksanaan. Tak bersenjata, tapi mampu menghentikan pertempuran dengan satu kalimat. Tak memimpin, tapi semua pemimpin mendengarkannya.
Dalam struktur kraton, dalam ruang media, bahkan dalam ruang nasional, kita butuh sosok-sosok seperti Semar—yang suaranya lembut tapi menembus hati, yang tidak haus jabatan tapi menjadi panutan sejati. Semar adalah roh abdi dalem yang tak tergantikan: rendah hati, waskita, dan hadir hanya untuk melayani kebenaran.
Bulan Sura: Saatnya Membuka Alas Batin Bangsa
Pementasan Babad Alas Wanamarta di penghujung Wulan Sura ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah ritual kolektif untuk menutup bulan penuh tapa dengan harapan terang. Ia adalah ajakan dari Kraton kepada kita semua—baik sebagai rakyat, pemimpin, atau abdi—untuk merenung, menyucikan niat, dan menata kembali jalan pengabdian.
Karena bangsa yang besar bukan hanya dilihat dari megahnya bangunan, tetapi dari tegaknya nilai dan ketulusannya dalam melayani.
Menjadi Pandawa di Zaman Kini
Kita semua, dalam peran apapun hari ini—wartawan, guru, petani, pemimpin, pelajar—punya hutan yang harus kita buka. Hutan dalam pikiran. Hutan dalam birokrasi. Hutan dalam moralitas publik.
Dan sebagaimana Pandawa membangun Amarta dari hutan terbuang, kita pun dapat membangun Indonesia yang adil, lestari, dan penuh rasa—asal kita mau bekerja tanpa pamrih, mengabdi dengan tulus, dan berjalan dalam dharma. @indonesiabuzz
📍 Ditulis sebagai refleksi dalam rangka Ringgitan Tutup Wulan Sura, Kraton Surakarta Hadiningrat, 25 Juli 2025







