IndonesiaBuzz: Jakarta, 17 Juni 2025 – Kebijakan ekonomi Donald Trump kembali mengguncang dunia. Ketika Presiden AS tersebut memberlakukan tarif baru yang agresif terhadap berbagai negara mitra dagang, pasar saham global langsung ambruk. Namun, di balik kekacauan ini, muncul perusahaan-perusahaan yang justru meraih keuntungan besar dan semakin berjaya.
Langkah Trump ini dilihat oleh banyak analis sebagai bentuk proteksionisme ekstrem. Ketidakpastian meningkat, investasi terganggu, dan nilai saham raksasa teknologi seperti Apple, Nvidia, hingga Tesla mengalami koreksi tajam. Bahkan, Nasdaq sempat kehilangan nilai pasar sebesar US$1,4 triliun hanya dalam waktu beberapa hari.
Namun di sisi lain, perusahaan-perusahaan tertentu justru mendapat berkah. Terutama yang bergerak di sektor logistik, keamanan siber, dan artificial intelligence. Permintaan akan layanan mereka meningkat karena banyak bisnis global berupaya mengurangi ketergantungan pada AS dan membangun rantai pasokan alternatif.
Di tengah badai tersebut, muncul analisis tajam dari Paul Stanley, kepala investasi di Granite Bay Wealth Management, yang menyatakan:
“Kebijakan ini merupakan skenario terburuk bagi industri teknologi. Saya yakin kita belum melihat titik terendahnya. Sektor ini akan terus berjuang hingga ada kepastian atau revisi kebijakan.”
Menurut para pakar, kondisi ini bisa mengarah pada resesi teknikal jika tidak ditangani serius. Bahkan beberapa perusahaan besar seperti UPS dan GM dilaporkan memangkas proyeksi laba dan mempertimbangkan langkah efisiensi besar-besaran, termasuk PHK massal.
Meski begitu, sejumlah pelaku usaha melihat peluang dari krisis ini. Perusahaan berbasis produksi lokal, penyedia layanan cloud, serta penyedia infrastruktur digital mendadak mengalami lonjakan permintaan. Mereka menjadi solusi alternatif bagi pasar yang terdampak langsung dari konflik dagang.





