IndonesiaBuzz: Wonogiri, 3 Agustus 2025 – Di tengah menjamurnya kuliner modern yang hadir di berbagai sudut kota Wonogiri, ada satu cita rasa tradisional yang tetap bertahan dan dicintai masyarakat kerupuk opak singkong. Makanan ringan khas berbahan dasar gaplek (singkong yang sudah di keringkan) ini masih menjadi primadona, berkat tangan-tangan terampil para pelestari kuliner lokal, salah satunya adalah Suwarsi (38), warga Desa Ngladon, Kelurahan Guwotirto, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri.
Lebih dari sepuluh tahun Suwarsi menekuni usaha pembuatan opak singkong bukan hanya sebagai pelipur rasa rindu pada makanan khas kota gaplek, tapi juga sebagai sumber nafkah utama dalam membantu ekonomi keluarganya. Dengan penuh ketekunan, ia memilih singkong berkualitas yang kemudian diolah menjadi gaplek, sebelum diproses lebih lanjut menjadi opak.
“Semua saya kerjakan sendiri, mulai dari memilih singkong, mengupas, menjemur, sampai menggiling jadi tepung,” tutur Suwarsi saat ditemui IndonesiaBuzz, Minggu (3/8/25). “Kalau gapleknya putih dan bersih, nanti hasil opaknya bisa renyah dan gurih.”
Proses pembuatannya tidaklah singkat. Singkong yang telah dikupas dijemur terlebih dahulu hingga benar-benar kering selama satu minggu penuh. Setelah menjadi gaplek, bahan ini lalu digiling menjadi tepung. Tepung gaplek tersebut kemudian diolah menjadi adonan dengan campuran air mendidih, garam, bawang putih, dan penyedap rasa, lalu diaduk hingga kalis dan siap dibentuk.
Dengan tangan telaten yang dilapisi plastik bersih, Suwarsi membentuk adonan menjadi lembaran pipih ciri khas makanan asli Wonogiri ini. Lembaran ini kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama 3 hingga 4 hari hingga kering sempurna dan siap digoreng menjadi kerupuk yang lezat.
Pemasaran pun dilakukan secara mandiri. Suwarsi menitipkan opaknya di lebih dari 16 warung yang tersebar di wilayah Kecamatan Giriwoyo, sembari melayani pesanan dari pelanggan tetap.
“Biasanya setelah terkumpul banyak, saya keliling untuk menitipkan ke warung-warung. Syukur alhamdulillah, hasilnya bisa untuk kebutuhan harian keluarga,” jelasnya.
Meski tren jajanan kekinian semakin berkembang, Suwarsi bersyukur makanan tradisional ini masih memiliki tempat di hati konsumen. Setiap harinya, ia bisa meraup penghasilan lebih dari seratus ribu rupiah angka yang cukup menjanjikan untuk usaha rumahan berbasis kearifan lokal.
“Saya senang karena ternyata masih banyak orang yang suka opak singkong. Di tengah makanan modern, makanan tradisional seperti ini masih dicari,” imbuhnya.(Yudi S/Koresponden Wonogiri)







