Di sela daun yang mengintip malu-malu, di atas ubin yang tak pernah protes dilintasi waktu, mereka duduk. Tak ada musik, tak ada bunga, tak ada langit jingga. Tapi ada tawa. Ada jeda. Ada dua hati yang tak buru-buru
Pasar Triwindu, Solo
Trotoar Pasar Triwindu sore itu, seperti panggung kecil bagi dua pemeran utama kisah sederhana. Si lelaki bersendal jepit, menggenggam ponsel seadanya. Si perempuan berjaket almamater, bicara sambil sesekali menunduk malu, namun tak benar-benar ingin berhenti.
“Apa kabar hatimu hari ini?” mungkin tak terucap. Tapi terlihat dari caranya menoleh, dari caranya mendengarkan tawa yang sama-sama mereka bangun.
Trotoar itu tidak megah. Ia tidak seindah taman kota. Tapi ia diam-diam menjadi saksi bahwa cinta tidak selalu tentang tempat paling indah, melainkan tentang siapa yang duduk di sampingmu, ketika dunia sedang pelan-pelannya.
Tidak perlu liburan jauh. Tidak perlu restoran mahal. Cukup duduk berdua, sambil menikmati lalu-lalang kendaraan yang tak kenal jeda, dan orang-orang yang tak peduli.
Dan mereka tetap tinggal.
Di sana.
Saling bercerita tanpa suara.
Saling menggenggam tanpa tangan.
Saling merasa pulang, walau tak pernah pergi.
Sebab cinta yang tidak ribut, adalah cinta yang paling kuat.
Seperti trotoar: selalu ada, selalu menunggu, tak pernah bertanya mengapa kita datang kembali.







