IndonesiaBuzz: Wonogiri, 5 Agustus 2026 – Menghadapi puncak musim kemarau 2026, Polres Wonogiri memperkuat koordinasi lintas sektor melalui Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang digelar di Aula Sanika Satyawada Polres Wonogiri, Rabu (5/8/26). Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menyatukan strategi pencegahan dan mempercepat penanganan potensi kebakaran di wilayah yang dikenal memiliki kawasan hutan dan lahan kering cukup luas.
Rapat dipimpin langsung Kapolres Wonogiri AKBP Haris Munandar Hasyim, dan dihadiri unsur TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP dan Damkar, Dinas Sosial, Cabang Dinas Kehutanan, Palang Merah Indonesia (PMI), SAR Kabupaten Wonogiri, pejabat utama Polres Wonogiri, para kapolsek jajaran, serta personel kepolisian.
Kapolres menegaskan, rapat koordinasi tersebut menjadi forum penting untuk memperkuat komunikasi, menyamakan persepsi, dan membangun kolaborasi antarlembaga dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
“Rapat koordinasi ini menjadi wadah untuk memperkuat sinergi, komunikasi, dan kolaborasi seluruh instansi. Dengan koordinasi yang baik, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, hingga penanganan Karhutla dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu,” ujar AKBP Haris Munandar Hasyim.
Dalam rapat tersebut, Kabag Ops Polres Wonogiri Kompol Agus Syamsudin, memaparkan hasil analisis dan evaluasi penanganan Karhutla Semester I Tahun 2026. Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Lancang Kuning, terdeteksi sebanyak 83 titik panas (hotspot) di wilayah Kabupaten Wonogiri, yang terdiri atas delapan titik kategori rendah, 73 titik kategori sedang, dan dua titik kategori tinggi. Seluruh temuan tersebut masih memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Meski data lima tahun terakhir menunjukkan kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Wonogiri tergolong relatif rendah, Polres mencatat angka kebakaran secara umum masih cukup tinggi. Hingga tahun 2026, tercatat 31 peristiwa kebakaran sehingga upaya mitigasi dinilai perlu terus diperkuat.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, mengungkapkan bahwa lebih dari separuh wilayah Kabupaten Wonogiri merupakan kawasan hutan dan lahan kering yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran pada musim kemarau.
BPBD juga mencatat hingga 2 Agustus 2026 telah terjadi 33 kejadian kebakaran lahan dengan total luas area terdampak mencapai sekitar 49,39 hektare. Kecamatan Selogiri menjadi wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran terbanyak selama periode tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Kapolres Wonogiri menginstruksikan seluruh jajaran dan instansi terkait untuk meningkatkan patroli di kawasan rawan, mempercepat proses verifikasi titik panas, memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan, serta mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas dan Babinsa dalam kegiatan pencegahan di tingkat desa.
Kapolres juga mengingatkan bahwa setiap tindakan pembakaran hutan maupun lahan yang dilakukan secara sengaja akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Menurutnya, keterbatasan armada pemadam kebakaran menjadi alasan penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat sebelum api meluas.
Melalui rapat koordinasi tersebut, Polres Wonogiri bersama seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu menekan potensi kebakaran hutan dan lahan, melindungi keselamatan masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Wonogiri. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).







