IndonesiaBuzz: Tokoh – Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari ini dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang gugur dalam Pertempuran Surabaya pada tahun 1945. Pertempuran ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Namun, tidak hanya di Surabaya, ada banyak pahlawan dari berbagai daerah yang juga berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah kota Solo, yang memiliki tiga tokoh yang diakui sebagai pahlawan nasional. Siapa saja mereka? Berikut profil singkatnya.
1. Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat
Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat adalah seorang dokter yang juga berasal dari kalangan bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta. Ia menjadi dokter keraton pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, atas rekomendasi dari Bupati Sragen, K.R.M.T. Panji Sumonegoro.
Selain sebagai dokter, ia juga berperan dalam dunia politik dan pendidikan. Ia mendirikan sebuah rumah sakit di Solo, yang bernama Panti Rogo, dan sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Kadipolo Surakarta. Ia juga menjadi salah satu pendiri Universitas Gadjah Mada, dan menjadi rektor pertamanya.
Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang bertugas menyusun dasar negara dan konstitusi Indonesia. Ia juga menjadi salah satu penandatangan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
2. Sri Susuhunan Pakubuwono VI
Sri Susuhunan Pakubuwono VI adalah raja dari Keraton Kasunanan Surakarta. Ia memerintah pada periode 1823-1830. Ia dikenal sebagai raja yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda dalam Perang Jawa (1825-1830).
Meskipun Keraton Kasunanan Surakarta telah menjalin perjanjian politik dengan Belanda, Pakubuwono VI memberikan bantuan secara diam-diam kepada Pangeran Diponegoro. Ia mengirimkan pasukan dan persenjataan untuk membantu gerilya Pangeran Diponegoro.Namun, akhirnya Belanda mengetahui peran ganda Pakubuwono VI, dan menuduhnya sebagai pengkhianat. Belanda kemudian menangkap dan mengasingkan Pakubuwono VI ke Batu Gajah, Ambon, dengan menggunakan kapal Roepel. Ia meninggal di sana pada tahun 1849.
3. Sri Susuhunan Pakubuwono X
Sri Susuhunan Pakubuwono X adalah raja dari Keraton Kasunanan Surakarta yang memerintah pada periode 1893-1939. Ia dikenal sebagai raja yang memberikan dukungan dan perlindungan kepada beberapa organisasi pergerakan nasional yang ada di Solo, seperti Sarekat Islam dan Budi Utomo.
Ia memberikan fasilitas, material, dan moral kepada organisasi-organisasi tersebut, yang berisi para bangsawan dan rakyat biasa yang ingin memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga memberikan sumbangan dana untuk membantu perjuangan Sarekat Islam di luar Solo.
Pakubuwono X juga mengizinkan para pemimpin pergerakan nasional, seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, dan Mohammad Hatta, untuk tinggal di keraton. Ia juga memberikan gelar kebangsawanan kepada beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir. @indonesiabuzz




