
Oleh : Eko Sigit Pujianto
IndonesiaBuzz: Sudut Pandang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya menjadi salah satu terobosan mulia pemerintah. Dengan alokasi anggaran jumbo mencapai Rp 335 triliun, program ini diharapkan menjadi fondasi kuat untuk mencetak generasi emas Indonesia 2045. Namun, belakangan muncul wacana dari Menteri Keuangan untuk mengalihkan sebagian anggaran MBG ke program sosial lain.
Pertanyaan pun mencuat: apakah ini langkah tepat?
Sepanjang pelaksanaan program sosial di Indonesia, kita sering mendengar cerita tentang penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran. Mulai dari data yang bermasalah, birokrasi berbelit, hingga bantuan yang salah alamat. Bukannya tidak bermanfaat, tetapi eksekusinya kerap jauh dari semangat awal.
Jika Rp 335 triliun yang seharusnya menopang MBG justru dialihkan, tidakkah ini hanya akan memperparah masalah yang sudah ada? Alih-alih memperkuat program gizi nasional yang punya dampak nyata jangka panjang, dana besar ini justru bisa “tersedot” untuk menambal program lama yang pelaksanaannya belum solid.
Banyak suara juga menyerukan agar MBG diubah menjadi bantuan tunai. Namun, di sinilah letak risikonya. Menguangkan program bisa berujung pada penyalahgunaan, bahkan menghilangkan semangat kebersamaan dalam memastikan anak-anak Indonesia benar-benar mendapat gizi yang layak.
Program sebesar MBG jelas tidak bisa hanya dibebankan pada Badan Gizi Nasional. Semua stakeholder mulai pemerintah pusat, daerah, sekolah, hingga penyedia bahan pangan wajib ikut memastikan standar operasional berjalan. Kepatuhan pihak ketiga terhadap SOP pun jadi kunci.
Dengan nilai alokasi sebesar itu, MBG sejatinya adalah prioritas nasional, bukan program pinggiran. Jika benar-benar dikelola konsisten, inilah salah satu program yang pantas diperjuangkan demi mewujudkan Indonesia Emas.
Jangan sampai program mulia ini justru diganggu, apalagi dialihkan.@sigit







