IndonesiaBuzz: Pati, 9 Agustus 2025 – Bupati Pati H. Sudewo menggelar rembug bareng bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan para koordinator lapangan (korlap) aksi unjuk rasa membahas polemik kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebesar 250 persen serta perubahan jam operasional sekolah.
Pertemuan berlangsung pada Jumat (8/8/2025) pukul 14.20–17.50 WIB di Restoran Warisan Nyonya, Jalan P. Diponegoro No. 18A, Pati, dan dihadiri sekitar 40 orang dari berbagai unsur, termasuk Karo Ops Polda Jateng Kombes Pol Basya Radyananda, Dir Intelkam Polda Jateng Kombes Pol Bayu Aji, Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi, Dandim 0718/Pati Letkol Arm Timotius Berlian Yogi Ananto, tokoh masyarakat, LSM, mahasiswa, serta korlap aksi yang direncanakan 13 Agustus mendatang.
Hasil rembug bareng menetapkan dua poin penting: pembatalan kenaikan PBB-P2 sebesar 250 persen dan pengembalian jam operasional sekolah dari lima hari menjadi enam hari seperti semula. Keputusan ini diambil untuk meredam keresahan masyarakat dan menjaga stabilitas keamanan di daerah.
Cahya Basuki alias Yayak Gundul, Korlap Gerakan Pati Bersatu (GERPAB), menegaskan dinamika ini adalah bagian dari proses demokrasi. Ia mengapresiasi keputusan pembatalan kenaikan pajak dan pengembalian jam sekolah sebagai langkah positif.
“Namanya salah paham itu wajar. Kalau kita keliru memahami kebijakan, mari kita pikirkan kembali dengan kepala dingin. Sekarang kenaikan pajak 250 persen sudah dibatalkan, begitu juga aturan lima hari sekolah sudah dikembalikan menjadi enam hari. Ini demi kebersamaan dan persatuan warga Pati,” ujarnya.
Yayak juga mengajak semua pihak menurunkan tensi menjelang tanggal 13 Agustus dan menegaskan tidak punya agenda tersembunyi, hanya berjuang untuk kepentingan rakyat, termasuk nasib para pedagang kaki lima (PKL).
Sementara itu, Ustad Dr. Sahal Mahfudh, Korlap Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (ASPIRASI), mengingatkan peserta aksi agar tetap menjaga ketertiban dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah.
“Jangan sampai kita ditunggangi oleh pihak yang membawa misi kerusakan, permusuhan, dan pertumpahan darah. Mari kita jaga lisan dan tindakan supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” pesan Ustad Sahal.
Bupati Pati H. Sudewo menyampaikan terima kasih atas masukan para korlap dan tokoh masyarakat. Ia mengakui masih banyak kekurangan dalam kepemimpinan dan berjanji akan terus mendengarkan aspirasi warga.
“Saya mohon dukungan agar Pati tetap aman dan kondusif. Terkait pembangunan infrastruktur yang tertunda, akan kita agendakan kembali tahun depan,” kata Bupati.
Mengenai jam sekolah, Bupati menegaskan kebijakan lima hari sekolah telah dikembalikan menjadi enam hari sesuai aspirasi masyarakat. Ia meminta kerja sama semua pihak agar pada 13 Agustus situasi tetap kondusif, mengingat isu ini berpotensi mempengaruhi iklim investasi di Pati.
Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi mengajak pembatalan aksi unjuk rasa dan menggantinya dengan acara tasyakuran bersama untuk mengurangi potensi gesekan. Pihaknya menyiapkan pengamanan maksimal dan akan menyeleksi peserta agar tidak ada pihak luar yang memprovokasi.
“Marilah kita bersama-sama menjaga situasi Kabupaten Pati agar kondusif. Jangan sampai aksi diwarnai kelompok anarko yang akan membuat kerusuhan dan merusak Pati,” tegas Kapolresta.
Ia mengimbau masyarakat bersikap bijak agar perekonomian tetap berjalan dan investasi bisa terus masuk ke Pati.
Dengan kesepakatan ini, diharapkan keresahan warga mereda dan suasana Kabupaten Pati tetap aman menjelang aksi 13 Agustus 2025.







