IndonesiaBuzz: Solo, 26 Juni 2025 – Tradisi sakral Kirab Pusaka 1 Suro kembali digelar Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (26/6/2025) malam. Prosesi kirab menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro (1 Muharam) warsa Dal 1959 ini dipimpin langsung Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram, yang membawa pusaka utama Kraton.
Prosesi dimulai pukul 20.00 WIB diawali dengan doa wilujengan di Sasana Maligi yang dipimpin ulama Kraton. Doa ini menjadi ungkapan permohonan keselamatan dan berkah bagi bangsa.
Kirab dipimpin langsung oleh Raja Surakarta SISKS Pakoe Boewono XIII, GKR Pakoe Boewono, GKR Timoer Rumbai Kusumadewayani, GRAy Devi Lelyana Dewi dan GRAy Dewi Ratih Widyasari dan Sentono Dalem serta para Abdi Dalem dan Sentono Dalem.
Tak hanya kalangan internal Kraton, sejumlah tokoh nasional tampak hadir dalam prosesi ini, di antaranya Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Gubernur Jawa Tengah Muhammad Lutfi, Wali Kota Surakarta Respati Ardi, dan Wakil Wali Kota Astrid. Ribuan abdi dalem dan ratusan ribu masyarakat tumpah ruah menyaksikan kirab yang menjadi agenda tahunan Kraton.
Menampilkan pusaka-pusaka sakral yang dikawal oleh lima ekor kebo bule, termasuk Kanjeng Kyai Slamet yang memimpin barisan terdepan.Kirab kali ini menampilkan tujuh dari total 13 pusaka utama Kraton yang disemayamkan selama prosesi berlangsung. Masing-masing pusaka memiliki makna historis dan simbolis yang kuat, menjadi lambang peradaban, keberanian, serta kebijaksanaan leluhur.
Pengageng Sasana Wilapa, KPA Dani Nur Adiningrat menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar pelestarian tradisi, tetapi juga merupakan sarana spiritual dan refleksi diri.
“Malam Suro menjadi momentum untuk mengingat perjalanan setahun ke belakang dan menyiapkan diri menyambut tahun yang baru dengan niat kebaikan,” ujarnya.
Dani juga berharap kirab ini menjadi pemantik semangat masyarakat untuk menjaga dan melestarikan budaya masing-masing.
“Harapan kami, seluruh masyarakat dari berbagai suku dan latar belakang bisa lebih memperhatikan dan melestarikan adat serta budaya daerah. Ini penting sebagai fondasi kebudayaan nasional sekaligus benteng dari pengaruh budaya asing,” tutupnya.
Dalam tradisi ini Menampilkan pusaka-pusaka sakral yang dikawal oleh lima ekor kebo bule, termasuk Kanjeng Kyai Slamet yang memimpin barisan terdepan. Kirab kali ini menampilkan 13 pusaka utama Kraton yang disemayamkan selama prosesi berlangsung. Masing-masing pusaka memiliki makna historis dan simbolis yang kuat, menjadi lambang peradaban, keberanian, serta kebijaksanaan leluhur.







