IndonesiaBuzz: News – Penelitian terbaru menemukan adanya zona asam di kedalaman sekitar 4.000 meter di bawah permukaan laut yang memengaruhi beberapa area di Bumi. Zona ini, yang dikenal sebagai kedalaman kompensasi karbonat, berada di bagian terdalam lautan dengan suhu rendah dan tekanan tinggi.
Seiring waktu, zona asam tersebut telah meluas hingga ratusan meter sejak masa pra-industri. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Marine Geology pada September 2023 ini mengungkap bahwa perluasan zona asam tersebut disebabkan oleh peningkatan karbon dioksida yang terserap oleh lautan, menyebabkan air laut menjadi lebih asam.
Apa Itu Zona Asam Lautan?
Zona asam ini dikenal menciptakan kondisi yang melarutkan kalsium karbonat, yaitu bahan utama yang digunakan dalam pembuatan cangkang hewan laut. Teori ini terkait dengan gagasan bahwa pengasaman air permukaan laut disebabkan oleh karbon dioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil yang diserap oleh lautan.
Para peneliti menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi karbon dioksida di laut dalam menurunkan pH air, mempercepat pelarutan kalsium karbonat, dan menyebabkan perluasan zona asam. Lisoklin, yakni zona transisi di mana kalsium karbonat mulai tidak stabil dan larut, naik secara signifikan sehingga memperluas wilayah asam di dasar laut.
Dampak Terhadap Ekosistem Laut
Sejak revolusi industri, zona asam ini telah meluas hingga hampir 100 meter, dan diperkirakan akan terus meluas hingga ratusan meter lebih dalam abad ini. Berdasarkan laporan dari LiveScience, saat ini zona asam telah menempati sekitar 41 persen lautan dunia dan diprediksi akan meningkat menjadi 51 persen jika tren ini berlanjut.
Perluasan zona asam sangat bervariasi di seluruh lautan dunia, mulai dari hampir tidak ada perubahan di Samudra Hindia bagian barat hingga peningkatan lebih dari 300 meter di barat laut Atlantik.
Masa Depan Lautan di Tengah Perubahan Iklim
Jika kedalaman kompensasi kalsit terus meningkat hingga 300 meter, luas area dasar laut yang terkena dampak akan bertambah sebesar 10 persen, mengancam stabilitas ekosistem laut yang bergantung pada kalsium karbonat. Jutaan kilometer persegi dasar laut diprediksi akan mengalami transisi cepat dan menjadi tidak stabil secara kimia, mengakibatkan pelarutan sedimen berkapur yang berdampak pada kehidupan laut.
Penemuan ini menjadi peringatan akan dampak perubahan iklim terhadap lautan global dan pentingnya upaya pengurangan emisi karbon dioksida untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut. @wara-e







