IndonesiaBuzz: Wonogiri, 17 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten Wonogiri terus memperkuat pendidikan politik bagi generasi muda sebagai bagian dari upaya membangun demokrasi yang berkualitas dan partisipatif. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi Pendidikan Politik bagi Pemilih Pemula yang digelar di SMK Pancasila 1 Wonogiri, Kamis (16/7/26), dengan melibatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wonogiri dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Wonogiri sebagai narasumber.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan literasi politik pelajar yang pada Pemilu 2029 akan memasuki kategori pemilih pemula. Melalui edukasi sejak dini, para pelajar diharapkan memahami pentingnya hak pilih sebagai instrumen utama dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Membuka kegiatan tersebut, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan demokrasi Indonesia. Menurutnya, kualitas demokrasi di masa depan sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran politik generasi muda saat menggunakan hak pilihnya.
Ia mengingatkan para pelajar agar tidak bersikap apatis terhadap proses demokrasi karena setiap suara memiliki nilai yang sama dalam menentukan arah kebijakan negara.
“Kalian adalah generasi yang akan menggunakan hak pilih pada Pemilu 2029. Jangan sampai apatis terhadap pemilu, karena satu suara dapat menentukan arah pembangunan bangsa. Perbedaan pilihan adalah bagian dari demokrasi, namun persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga sebagaimana nilai yang terkandung dalam Sila Ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia,” ujar Setyo Sukarno.
Menurutnya, keberagaman pilihan politik merupakan konsekuensi dari sistem demokrasi yang sehat. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh mengikis persatuan maupun semangat kebangsaan.
Dalam kesempatan itu, Bupati menekankan bahwa demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai penyelenggaraan pemilu lima tahunan. Lebih dari itu, demokrasi juga menuntut keterlibatan aktif masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan, mengawasi kebijakan publik, serta berpartisipasi dalam pembangunan daerah.
Karena itu, peningkatan partisipasi politik masyarakat menjadi salah satu indikator penting keberhasilan demokrasi di tingkat lokal maupun nasional.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri, lanjutnya, akan terus memperluas pendidikan politik kepada berbagai kelompok masyarakat agar budaya demokrasi semakin kuat.
“Kami terus mendorong pendidikan politik yang berkelanjutan, khususnya bagi pemilih pemula, perempuan, dan penyandang disabilitas. Selain itu, pemerintah berkomitmen menghadirkan ruang dialog yang aman, terbuka, serta bebas dari hoaks, intimidasi, dan politisasi SARA. Sekaligus memperkuat sinergi dengan partai politik agar dana bantuan keuangan dari APBD dimanfaatkan secara optimal untuk pendidikan politik masyarakat,” katanya.
Bupati juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari partai politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat luas untuk bersama-sama membangun budaya politik yang sehat, dewasa, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, demokrasi yang berkualitas hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak memiliki komitmen menjaga ruang publik tetap kondusif, menghargai perbedaan pilihan politik, serta menolak penyebaran hoaks, ujaran kebencian, maupun politisasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Ia menilai kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci dalam membangun kehidupan demokrasi yang inklusif dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman pandangan politik.
Melalui kegiatan pendidikan politik bagi pemilih pemula tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonogiri berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memahami mekanisme pemilu, tetapi juga memiliki kesadaran sebagai warga negara yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab. Dengan bekal literasi politik yang baik, para pelajar diharapkan mampu menjadi pemilih yang rasional serta berkontribusi dalam memperkuat kualitas demokrasi Indonesia pada Pemilu 2029 dan seterusnya. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).





