IndonesiaBuzz, Madiun 12 Juli 2024 – Dalam rangka memperingati ulang tahun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun yang ke-456, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun menggelar Pameran Pusaka pada 11-14 Juni 2024 yang berlangsung di Pendopo Ronggo Jumeno.
Pameran Pusaka yang bertajuk “Keagungan Pusaka Naga Siluman” ini menampilkan koleksi 39 pusaka langka, termasuk dua koleksi milik Presiden terpilih Prabowo Subianto serta pusaka pribadi milik KP. Hari Andri Winarso, Ketua PKHN DPD Kota Madiun.
Agung Guntoro Wisnu, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Perkerisan Indonesia, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena pusaka naga siluman adalah koleksi langka dan istimewa, serta bertepatan dengan tahun “Naga” dalam kebudayaan Cina.
“Menurut kebudayaan Cina, tahun ini adalah tahun naga, di masa mendekati pilkada, pesta demokrasi. Biasanya, naga siluman penting dimiliki oleh calon atau tim sukses agar bisa bersaing di pilkada,” tuturnya, Kamis (11/7/2024).
Anang Sulistijono, Kepala Disparpora Kabupaten Madiun, menyatakan bahwa pameran ini diselenggarakan untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Madiun yang ke-456. Tujuan pameran ini adalah menjaga kelestarian budaya, sebagai sarana edukasi bagi generasi muda, dan menjadi tempat bertemunya para penggiat keris di wilayah Kabupaten Madiun.
“Kita selaku bangsa besar tidak boleh meninggalkan sejarah, dan ini adalah bagian dari sejarah kita,” katanya.
Pameran ini juga menampilkan demo menempa keris oleh Empu Intan Anggun Pangestu, didampingi oleh dua panjak dari mahasiswa ISI Surakarta, serta seminar Tombak Brata yang akan diselenggarakan pada 14 Juli 2024 mendatang.
Sebagai informasi tambahan, filosofi keris nogosiluman adalah ‘Nogo Siluman’ yang secara harfiah dapat diartikan sebagai naga yang tidak kelihatan atau naga yang ada di alam maya, alam gaib, atau alam astral.
Adapun ciri-ciri keris nogosiluman yaitu memiliki ‘gandhik’ kepala naga yang mengenakan mahkota, ‘sumping’, dan juga kalung. Sedangkan badan naga dibuat sedikit tersamar yang kemudian menghilang pada luk pertama menyatu dengan bilahnya. Filosofi ini mengandung makna bahwa manusia dalam menjalani hidup harus bisa mengendalikan hawa nafsunya yang berupa kekuasaan, kemewahan, atau kekayaan. Sebagai seorang pemimpin, tidak boleh bertindak sewenang-wenang, karena apa yang dimilikinya adalah “Sampiraning Urip” (titipan sementara hidup).
.







