IndonesiaBuzz: Vatikan – Dalam Misa Pentakosta yang diadakan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu (8/6), Paus Leo XIV menyampaikan pesan kuat mengenai ancaman nasionalisme politik yang menurutnya berpotensi mengoyak nilai-nilai kemanusiaan universal. Dalam khotbahnya yang menyentuh ribuan umat Katolik di seluruh dunia, Paus mengangkat isu kebangkitan politik eksklusif yang menjauhkan manusia dari semangat persaudaraan sejati.
“Semoga Tuhan membuka perbatasan, merobohkan tembok, dan menghilangkan kebencian,”
ujar Paus Leo dengan suara tegas namun penuh welas asih, seperti dikutip dari AsiaOne pada Senin (9/6).
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap Gereja Katolik yang terus konsisten dalam menolak segala bentuk ekstremisme dan diskriminasi berbasis kebangsaan, ras, maupun kepercayaan. Meskipun tidak secara langsung menyebutkan nama negara atau pemimpin tertentu, pernyataan Paus Leo XIV dianggap sebagai sindiran terhadap gelombang populisme dan nasionalisme sayap kanan yang semakin menguat di berbagai penjuru dunia.
Paus Leo XIV, yang terpilih sebagai pemimpin Gereja Katolik pada 8 Mei 2025 menggantikan Paus Fransiskus, dikenal sebagai figur vokal dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan sejak masih menjabat sebagai Kardinal Robert Prevost. Bahkan sebelum naik takhta, ia dikabarkan pernah menulis cuitan bernada kritis terhadap kebijakan imigrasi Amerika Serikat, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance.
Meskipun akun X (sebelumnya Twitter) yang sempat digunakan tersebut telah dinonaktifkan dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh Vatikan, arah pemikirannya yang inklusif dan anti-diskriminasi sejalan dengan semangat pendahulunya.
Paus Fransiskus sendiri sempat mengkritik keras rencana deportasi massal terhadap imigran yang diusulkan oleh Trump pada awal tahun ini. Ia menyebut kebijakan itu sebagai “aib”. Bahkan jauh sebelumnya, pada 2016, Paus Fransiskus menyatakan bahwa siapa pun yang lebih memilih membangun tembok daripada membangun jembatan, “bukanlah seorang Kristen.”
Melalui pesannya, Paus Leo menekankan bahwa Gereja Katolik tidak akan pernah berhenti membela nilai-nilai kemanusiaan. Nasionalisme politik yang mengagungkan identitas kelompok secara berlebihan sering kali menutup pintu dialog, menciptakan jurang ketidakpercayaan, serta memperparah ketegangan sosial.
Pesan seperti ini menjadi sangat penting di era ketika banyak negara mulai menarik diri dari komitmen global untuk keadilan, solidaritas, dan kemanusiaan. Gereja, menurut Paus, harus menjadi jangkar moral yang menolak keras politik berbasis kebencian, diskriminasi, dan ketakutan terhadap “yang lain”.
Implikasi Seruan Paus bagi Dunia Global
Dengan menyatakan “semoga Tuhan membuka perbatasan, merobohkan tembok, dan menghilangkan kebencian,” Paus Leo XIV mengajak dunia untuk:
- Membangun empati dan kerja sama lintas bangsa dan budaya, tanpa melihat perbedaan sebagai ancaman.
- Menghancurkan mentalitas eksklusif yang membatasi manusia pada identitas sempit kebangsaan.
- Menumbuhkan semangat globalisasi yang beretika, di mana semua manusia dipandang setara di mata Tuhan.
Misa Pentakosta tersebut tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga panggung moral yang mempertegas posisi Gereja dalam menanggapi dinamika politik kontemporer.
Paus Leo XIV memulai kepemimpinannya dengan pesan kuat yang merangkul semua manusia—terlepas dari asal, agama, atau warna kulit. Dalam dunia yang tengah dibelah oleh politik identitas, suara dari Vatikan ini mengingatkan bahwa akar dari keberadaan kita adalah kasih, bukan kebencian. Dengan khotbahnya, Paus Leo menyerukan harapan akan dunia yang lebih terbuka, inklusif, dan penuh belas kasih—dunia yang berdiri di atas nilai-nilai kemanusiaan, bukan tembok pemisah.







