IndonesiaBuzz: Sudut Pandang – Kamu siapa? Cuma orang biasa? Ya udah, jangan banyak gaya. Jangan bawa-bawa mental health kamu ke story. Jangan curhat masalah hidup kamu di caption. Mau ngeluh? Simpan sendiri. Nanti dibilang drama, cari perhatian, insecure, nggak bersyukur.
Beda cerita kalau kamu influencer.
Kamu bisa nangis seharian di TikTok, sambil pakai filter air mata. Bisa curhat burnout sambil ngiklan skincare. Bisa bikin vlog “healing trip” ke Bali, sambil cerita soal anxiety. Hasilnya? Dibilang inspiratif. Netizen nyuruh kamu stay strong. Bahkan bisa dapet brand deal baru. Keren, kan?
Luar biasa memang… algoritma empati netizen.
Kebenaran Versi Centang Biru
Di internet, ternyata sedih itu butuh branding. Trauma itu harus punya engagement. Kalau kamu bukan siapa-siapa, bahkan air mata kamu dianggap acting kelas FTV. Tapi kalau kamu punya followers banyak, luka kamu bisa jadi inspirasi nasional.
Ironis, bukan?
Mental health campaign? Harus lewat selebgram. Curhat tentang toxic relationship? Harus punya konten visual aesthetic. Baru dianggap valid. Baru dibilang berani. Baru netizen bilang, “aku relate banget!”
Yang orang biasa? Suruh tahan aja. Nanti dibilang bawa energi negatif ke timeline. Bisa-bisa dibilang ngemis simpati. Atau lebih parah: unfollow.
Netizen: Pakar Empati Selektif
Tolong jangan salahkan netizen. Mereka cuma sayang kuota. Kalau sedih kamu nggak punya filter estetik atau background musik pelan, ya maaf… nggak masuk FYP empati mereka.
Lagipula, netizen kita memang punya keahlian khusus: menentukan siapa yang layak sedih, siapa yang cuma drama.
Influencer nangis = “wah, finally someone speaks up.”
Orang biasa nangis = “duh, capek banget lihat orang kayak gini.”
Double standard? Ah, nggak juga. Kan yang satu bisa kasih giveaway.
Jadi Gimana?
Simple. Kalau kamu bukan influencer, bukan artis, dan bukan siapa-siapa… jangan curhat di media sosial. Nggak usah cerita kamu lagi struggle. Netizen nggak suka. Mereka cuma mau inspirasi yang bisa di-save dan dijadikan quotes.
Oh iya, jangan lupa: kalau kamu tetap maksa curhat, siap-siap aja dicap baper dan haus validasi.
Karena di dunia maya sekarang, yang sedih harus verified dulu.







