IndonesiaBuzz: Tokoh – Melanie Perkins, pendiri Canva, membuktikan bahwa kegigihan dan keyakinan dalam merancang tak hanya bisa menciptakan karya seni, tetapi juga bisnis yang sukses. Lahir dengan hobi merancang dan menggambar sejak kecil, Melanie memutuskan untuk menjadikan desain sebagai fokus utama selama pendidikannya.
Namun, semuanya berubah pada tahun 2006 ketika Melanie, yang saat itu berusia 19 tahun, mengajar les desain kepada anak-anak sekolah. Ia mulai menyadari bahwa tidak semua orang dapat dengan mudah menggunakan aplikasi desain karena kompleksitasnya. Murid-muridnya bahkan kesulitan menggunakan perangkat lunak seperti Photoshop dan Coreldraw.
Dari kekesalannya itu, Melanie memutuskan untuk menciptakan solusi. Bersama temannya, Cliff Obrecht, mereka mendirikan aplikasi desain buku tahunan siswa bernama Fusion Books pada 2007. Fusion Books memungkinkan siswa membuat buku tahunan mereka sendiri tanpa harus memanggil vendor.
Meskipun Fusion Books sukses digunakan oleh lebih dari 200 sekolah, Melanie tidak berpuas hati. Ia bercita-cita untuk menciptakan aplikasi desain yang lebih multifungsi, melibatkan kartu nama, desain poster, presentasi, dan lainnya.
Tantangan terbesar muncul dalam upaya mewujudkan visinya. Melanie dan Cliff menghadapi penolakan dari lebih dari 100 investor. Mereka dihadapkan dengan pandangan bahwa bisnis desain grafis sudah mencapai batasnya. Namun, Melanie tidak menyerah.
Pada tahun 2011, secercah harapan muncul saat Melanie memenangkan kompetisi startup di Perth yang dihadiri oleh investor Bill Tai. Ini membuka pintu bagi mereka untuk pergi ke Silicon Valley, pusat teknologi di Amerika Serikat.
Melalui perjuangan yang panjang, pada 1 Januari 2013, aplikasi desain grafis revolusioner Canva lahir. Dengan tujuan membuat desain grafis dapat diakses oleh semua orang tanpa keahlian khusus, Canva langsung meraih kesuksesan. Dalam sekejap, aplikasi ini menjadi favorit dengan 50.000 pengguna, dan setahun kemudian, jumlahnya melonjak menjadi 600.000 pengguna dengan 3,5 juta desain.
Melalui investasi senilai US$ 3 juta pada 2012, Melanie dan timnya dapat mewujudkan visi mereka. Dengan bantuan Cameron Adams, seorang eks-pegawai Google, Canva terus berkembang. Saat ini, Melanie Perkins meraih kesuksesan besar dengan kekayaan mencapai US$ 3,6 miliar, sedangkan Canva berhasil mengumpulkan keuntungan hingga US$ 1,7 miliar.
Melalui perjalanan yang penuh liku ini, Melanie Perkins membuktikan bahwa ketekunan, kreativitas, dan keyakinan bisa mengubah penolakan menjadi sukses yang luar biasa. Canva tidak hanya menjadi aplikasi desain, tetapi juga sebuah inspirasi bagi banyak individu yang bermimpi besar. @indonesiabuzz







