IndonesiaBuzz: Yogyakarta, 19 Mei 2026 – Kraton Surakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi sakral Labuhan Uborampe Adang untuk menyambut Tahun Dal 1959 dalam penanggalan Jawa. Prosesi adat ini berlangsung di kawasan Pantai Parangkusumo, Minggu (19/4/2026) siang, yang selama ini dikenal sebagai lokasi penting dalam ritual keraton.
Upacara ini merupakan kelanjutan dari rangkaian bethak adang yang sebelumnya digelar pada September 2025. Semula, labuhan dijadwalkan berlangsung pada Desember 2025, namun ditunda karena kondisi kesehatan SISKS Pakoe Boewono XIII yang saat itu tengah sakit.
Prosesi berlangsung khidmat dengan melibatkan para abdi dalem yang membawa berbagai uborampe atau perlengkapan sesaji. Uborampe Adang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus doa keselamatan bagi masyarakat dan kerajaan dalam memasuki Tahun Dal 1959.
Sejumlah tokoh keraton turut hadir, di antaranya Pengageng Parentah Kraton KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, Pengageng Kaputren Gusti Kanjeng Ratu Alit, Gray Rahmaniah, serta putri SISKS Pakoe Boewono XIII, Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kirono. Hadir pula para wayah dalem dan Sentana dalem dan Abdi Dalem.
Rombongan berangkat dari lingkungan keraton menuju Pantai Parangkusumo. Setibanya di lokasi, para Abdi Dalem yang mengenakan busana adat lengkap langsung melaksanakan ritual labuhan dengan melarung sesaji ke Laut Selatan.

Prosesi labuh sesaji di Pantai Parakusumo
Tradisi labuhan merupakan warisan budaya yang terus dijaga Kraton Surakarta Hadiningrat secara turun-temurun. Melalui prosesi ini, kraton memaknai hubungan keseimbangan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.
KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo menjelaskan, labuhan kali ini merupakan pelarungan uborampe dari perangkat upacara Adang yang rutin digelar setiap Tahun Dal dalam kalender Jawa.
“Labuhan hari ini merupakan pelarungan uborampe perangkat ketika upacara Adang setiap Tahun Dal. Di dalamnya terdapat adang Kanjeng Kyai Duda, peninggalan dari Jaka Tarub yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Tarub,” ujar Dipokusumo.
Ia menjelaskan, penundaan pelaksanaan labuhan terjadi karena padatnya agenda Kraton serta sejumlah peristiwa penting, termasuk wafatnya PB XIII. Selain itu, pada bulan Ramadan keraton tidak menggelar upacara adat besar, sementara bulan Syawal difokuskan untuk kegiatan ngabekten atau halal bihalal.
“Karena itu, baru hari ini upacara labuhan dapat dilaksanakan di Parangkusumo,” tambahnya.
Dipokusumo menegaskan, labuhan memiliki makna utama sebagai ungkapan syukur atas rezeki dan hasil yang diberikan alam.
“Makna utamanya adalah rasa syukur. Apa yang kita dapatkan dari alam, kita kembalikan sebagai bentuk penghormatan,” katanya.
Ia juga menilai tradisi ini sarat nilai budaya dan spiritual, termasuk pemahaman simbolik dalam hubungan manusia dengan alam semesta yang kerap dikaitkan dengan Kanjeng Ratu Kidul dalam tradisi Jawa.
Menurutnya, labuhan tidak semata dianggap sebagai ritual mistis, melainkan bagian dari ajaran leluhur tentang keseimbangan hidup dan penghormatan terhadap alam.
“Esensinya mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu berasal dari Sang Pencipta dan akan kembali kepada-Nya,” ujarnya.
Selain nilai spiritual, tradisi ini juga dinilai memiliki potensi sebagai wisata budaya tanpa menghilangkan makna sakralnya. Banyak masyarakat dan wisatawan tampak hadir sejak pagi untuk menyaksikan langsung prosesi tersebut.
Pihak Kraton Surakarta Hadiningrat menegaskan, Labuhan Uborampe Adang Tahun Dal 1959 bukan sekadar ritual adat, melainkan juga bentuk pelestarian budaya Jawa yang terus dijaga agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.@dimas







