IndonesiaBuzz: Yogyakarta, 4 Agustus 2025 – Kraton Surakarta Hadiningrat menggelar prosesi tradisi Wilujengan Caos Uninga Nyekar Dateng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo di kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (4/8/25) siang.
Prosesi yang sarat nilai spiritual dan budaya ini dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Alit selaku Pengageng Kaputren Kraton Surakarta, dan diikuti para utusan dalem. Wilujengan Caos Uninga merupakan agenda penting dalam kalender Tahun Dal Kraton Surakarta sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur raja-raja Mataram.
Rangkaian kegiatan dimulai dari persiapan ritual di Kraton Surakarta, dilanjutkan perjalanan menuju kompleks makam yang terletak di Karang Kulon, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Setibanya di lokasi, rombongan melaksanakan nyekar atau ziarah ke Pesareyan Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo yang berada di puncak bukit Imogiri.
Selain berziarah ke makam Sultan Agung, rombongan juga mengunjungi Kedhaton Girimulyo, tempat peristirahatan terakhir para raja Dinasti Pakubuwono, yaitu Sunan Pakubuwono X, XI, dan XII.
Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Dani Nur Adiningrat menyampaikan, pada hari yang sama Sri Susuhunan Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Boewono XIII telah mendawuhkan utusan dalem untuk melaksanakan ziarah ke makam Sultan Agung serta mengambil uborampe sebagai bagian dari persiapan Hajad Dalem Bethak (Adhang Tahun Dal 1959).
“Berdasarkan dhawuh Raja Kraton Kasunanan Surakarta, SISKS Pakoe Boewono XIII memberikan amanah kepada GKR Ratu Alit untuk memimpin ziarah ke makam Raja-raja di Imogiri, tepatnya Pasareyan Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo,” ujar Pangangeng Sasana Wilapa tersebut.
Ia menambahkan, ziarah ini memiliki makna penting sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada para leluhur pendiri Kerajaan Mataram, sekaligus sebagai pengingat akan sejarah panjang kerajaan tersebut.
“Intinya, kegiatan ziarah ke makam Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo adalah sebagai bentuk penghormatan, doa, serta sarana memohon restu leluhur untuk pelaksanaan Hajad Dalem Adhang Tahun Dal 1959,” pungkasnya. (Dimas.P/Koresponden Jogja)







