Oleh: KRA. H. Andri Winarso Wartonagoro (Jurnalis, Pemerhati Budaya)
IndonesiaBuzz: Celoteh – Kebaikan, sebuah nilai yang seharusnya tumbuh dari hati yang tulus, saat ini sering kali menjadi bahan sindiran di tengah memanasnya kancah perpolitikan di Indonesia. Fenomena ini semakin terasa di tahun-tahun politik, di mana anekdot sarkasme menjadi sarana untuk menyuarakan ketidakpercayaan terhadap kebaikan yang muncul dari para politikus dan calon legislatif (caleg). Ada kalanya kebaikan itu murni, namun terkadang juga tercium bau kepentingan politik yang tidak tulus. Inilah yang perlu kita telaah lebih dalam.
Kebaikan dan Politik: Apa Kabarnya?
Trend anekdot sarkasme yang berkembang di berbagai media sosial, bahkan sampai tertuang di punggung kaus, seperti “Teruslah berbuat baik sampai orang mengira kamu nyaleg”, menunjukkan betapa tingginya tingkat kritisitas masyarakat terhadap kebaikan yang seringkali disajikan oleh politikus. Dalam konteks politik, kebaikan seolah menjadi senjata pamungkas untuk memenangkan hati rakyat dan meraih suara di pemilihan umum.
Munculnya anekdot tersebut di tengah momentum politik mengisyaratkan bahwa masyarakat telah mulai meragukan integritas para politikus dan caleg. Sindiran ini dapat diartikan sebagai kritik terhadap kebaikan yang hanya muncul ketika ada kepentingan politik di baliknya. Bahkan, tidak jarang kebaikan tersebut hanya bersifat musiman, tumbuh subur di musim kampanye pemilu, namun sirna begitu pemilu usai.
Kebaikan Politisi di Indonesia: Fakta atau Rekayasa?
Sebagai negara yang dikenal dengan budaya gotong-royong dan tolong-menolong, Indonesia memang memiliki catatan prestasi yang luar biasa dalam hal kedermawanan. World Giving Index (WGI) menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia selama enam tahun berturut-turut. Namun, pertanyaan mendasar muncul: seberapa autentik kebaikan yang ditunjukkan oleh politikus dan caleg?
Nilai kebaikan yang tinggi dalam indeks kedermawanan bukanlah jaminan bahwa kebaikan tersebut murni. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam dunia politik, kebaikan sering kali menjadi mata uang untuk mendapatkan dukungan publik. Donasi uang, menjadi relawan, dan membantu orang tak dikenal bisa saja dilakukan dengan motif politik tertentu. Ini bukan lagi kedermawanan murni, melainkan strategi politik yang dikemas dengan label kebaikan.
Kebaikan yang muncul hanya di musim kampanye pemilu menjadi pemandangan umum yang sayangnya telah diterima sebagai bagian dari politik. Pertanyaannya, apakah kebaikan tersebut autentik atau hanya untuk mencapai tujuan politik sesaat? Saat tahun politik, politikus dan caleg sibuk mendekati rakyat, namun ketika tahun politik berganti, kebaikan tersebut seringkali hilang tanpa jejak.
Kebaikan yang Tercemar Motif Politik
Penting untuk memahami bahwa tidak semua kebaikan politikus dan caleg bersifat palsu. Namun, fakta bahwa kebaikan seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan politik menjadi kritik utama. Motif politik yang terus mencemari kebaikan membuatnya sulit untuk diterima sebagai bentuk altruisme yang tulus.
Kebaikan yang dijejali kepentingan politik dapat dianggap sebagai alat untuk memanipulasi opini publik. Politikus yang hanya menunjukkan kebaikan di depan publik selama masa kampanye dapat dianggap bermain dengan emosi dan harapan masyarakat. Nilai kebaikan yang seharusnya luhur dan tulus tergerus menjadi sekadar strategi politik yang dirancang untuk meraih suara.
Masyarakat sebagai Penyaring Kebaikan Pura-Pura
Dalam kondisi ini, masyarakat memiliki peran krusial sebagai penyaring kebaikan pura-pura dari politikus dan caleg. Kritisitas masyarakat dalam menilai dan memilah kebaikan yang ditampilkan oleh para politikus akan menentukan sejauh mana kebaikan tersebut dapat dianggap autentik.
Masyarakat perlu menjadi kritis dan selektif dalam menerima kebaikan yang ditunjukkan oleh politikus. Tidak boleh mentah-mentah menerima setiap aksi kebaikan tanpa melihat konteks dan motif di baliknya. Hanya dengan kritisitas yang tinggi, masyarakat dapat mengidentifikasi politikus yang benar-benar berkomitmen untuk kebaikan rakyat dan mereka yang hanya bersandiwara.
Lebih baik “tangan di atas daripada tangan di bawah,” demikian pepatah yang cukup relevan dalam konteks ini. Sebagai masyarakat, kita seharusnya tidak hanya menunggu kebaikan dari politikus, apalagi jika itu kebaikan palsu. Kita memiliki peran untuk mengukir kebaikan sendiri, membangun kebaikan yang autentik tanpa harus bergantung pada politikus atau caleg.
Masyarakat Kritis, Politik Bersih
Kritik terhadap kebaikan politikus dan caleg bukanlah suatu bentuk sikap skeptis yang negatif, melainkan langkah bijak dalam menjaga integritas nilai kebaikan itu sendiri. Masyarakat yang kritis akan menjadi filter yang efektif untuk menyaring kebaikan yang autentik dari yang palsu.
Seiring berjalannya waktu, hanya politikus yang benar-benar komitmen pada kebaikan masyarakat yang akan tetap bersinar, sementara kebaikan palsu akan segera terkuak di mata masyarakat yang kritis.
Jangan biarkan diri kita terus dilenakan dengan kebaikan yang pura-pura. Itu hanya akan menjadi jeratan yang meninabobokkan, dan pada akhirnya, kita semua yang akan merasakan dampaknya secara pahit. @indonesiabuzz





