IndonesiaBuzz: Surakarta, 22 Maret 2026 – Atas titah SISKS Pakoe Boewono XIV, Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar HajadDalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959, Minggu (22/3/2026), dalam rangka memperingati Idulfitri 1447 Hijriah. Tradisi tahunan ini berlangsung meriah dan dipadati masyarakat yang antusias menyaksikan jalannya prosesi.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Pengageng Parentah Karaton Surakarta, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo.
Prosesi kirab dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Dua gunungan dikeluarkan dari dalam karaton, diiringi barisan prajurit serta sentana dalem menuju Masjid Agung. Sepanjang rute kirab, warga tampak memadati sisi jalan untuk menyaksikan sekaligus menunggu kesempatan mendapatkan berkah dari gunungan.
Sesampainya di Masjid Agung, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh KRT KH Muhtarom selaku Penghulu Tafsir Anom karaton. Namun, suasana khidmat segera berubah ketika ratusan warga mulai berebut isi gunungan. Dalam waktu singkat, berbagai hasil bumi hingga jajanan pasar yang tersusun di gunungan ludes diambil masyarakat.
Puncak acara terlihat di kawasan Masjid Agung Surakarta saat dua gunungan hasil bumi habis diperebutkan warga. Momen ini menjadi bagian yang paling dinanti dalam setiap pelaksanaan Garebeg Pasa.
Dua gunungan yang diarak memiliki bentuk berbeda. Gunungan jaler atau laki-laki berisi hasil bumi seperti kacang panjang, sedangkan gunungan estri atau perempuan berisi rengginang serta makanan siap santap dengan bentuk melebar di bagian atas.
Menurut KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, gunungan memiliki makna filosofis yang mendalam. Gunungan melambangkan tiga unsur kehidupan, yakni pala kependem (yang tumbuh di dalam tanah), pala kesampar (yang berada di permukaan), dan pala gumantung (yang tergantung di pohon).
“Gunungan ini mencerminkan siklus kehidupan manusia, dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan yang harus dijaga keseimbangannya,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan gunungan jaler dan estri melambangkan keseimbangan hidup. Dalam filosofi Jawa, segala sesuatu hadir berpasangan, seperti siang dan malam, panas dan dingin, serta laki-laki dan perempuan.
Selain sebagai tradisi budaya, Garebeg Pasa juga menjadi wujud rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan.
“Ini bentuk syukur setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan” tambahnya.
Di akhir, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo mengajak generasi muda untuk terus melestarikan budaya Jawa yang sarat nilai luhur.
“Generasi muda harus ikut menjaga budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya.
Di sisi lain, pelaksanaan Garebeg Pasa juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran ribuan warga dan wisatawan turut menggerakkan aktivitas para pedagang di kawasan keraton. Meski peningkatan jumlah pengunjung belum terlalu signifikan, dampaknya tetap dirasakan pelaku usaha kecil.
Setiap tahunnya, gunungan selalu habis diperebutkan. Bagi sebagian warga, hal tersebut dipercaya membawa berkah. Sementara bagi yang lain, tradisi ini menjadi warisan budaya yang terus dijaga.
Di tengah perkembangan zaman, Garebeg Pasa tetap bertahan sebagai pengingat bahwa makna kehidupan dapat ditemukan dari hal-hal sederhana. Bahkan dari hasil bumi yang diperebutkan bersama, tersimpan pesan bahwa berkah perlu diupayakan dan dijaga keseimbangannya. @dimas



