IndonesiaBuzz: Semarang, 19 Mei 2026 – Generasi muda dinilai memegang peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045. Di tengah tantangan demokrasi, disrupsi teknologi, hingga dinamika sosial yang terus berkembang, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pengamat perubahan, tetapi tampil sebagai penggerak transformasi sosial sekaligus penjaga nilai kebangsaan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Konsolidasi Nasional Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SEMA PTKIN) se-Indonesia yang digelar di Planetarium Gedung Rektorat Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Selasa (19/5/26).
Forum nasional itu menghadirkan Kapolda Jawa Tengah Ribut Hari Wibowo sebagai narasumber utama. Di hadapan sekitar 100 mahasiswa PTKIN dari berbagai daerah di Indonesia, ia menyampaikan orasi ilmiah mengenai penguatan peran mahasiswa dalam mewujudkan keadilan sosial, demokrasi substantif, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Ribut Hari Wibowo menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon politik, melainkan arah besar pembangunan nasional yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
“Generasi muda merupakan penentu masa depan bangsa. Mahasiswa hari ini adalah calon pemimpin yang akan menentukan arah Indonesia di masa mendatang,” ujarnya.
Menurut Kapolda, Indonesia saat ini memiliki modal demografis yang sangat besar melalui dominasi populasi generasi muda. Karena itu, mahasiswa, khususnya dari lingkungan PTKIN, diharapkan mampu mengambil peran penting dalam menjaga persatuan, memperkuat nilai kebangsaan, serta mendorong pembangunan yang berkeadilan.
Ia menilai mahasiswa PTKIN memiliki kekuatan khas yang tidak dimiliki semua kelompok, yakni perpaduan antara kapasitas intelektual, spiritualitas, dan semangat kebangsaan yang mampu berjalan selaras dengan perkembangan modernitas.
“Mahasiswa Islam harus naik kelas. Tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, integritas moral, dan kemampuan menjadi solusi di tengah masyarakat,” katanya.
Dalam forum tersebut, Ribut juga menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan institusi kepolisian dalam menjaga stabilitas nasional serta kehidupan demokrasi yang sehat.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh dipandang semata sebagai objek pengamanan, melainkan mitra strategis dalam membangun ruang publik yang kritis, terbuka, dan konstruktif.
Sebagai bagian dari pendekatan baru institusi kepolisian, Kapolda turut memperkenalkan konsep transformasi pemolisian berbasis customer oriented, yakni model pelayanan Polri yang lebih terbuka, responsif, dan dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
Forum konsolidasi nasional tersebut juga dihadiri Rektor UIN Walisongo Semarang Musahadi, perwakilan Komisi Pemilihan Umum (KPU), unsur pemerintah daerah, akademisi, serta mahasiswa PTKIN dari berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah Artanto menegaskan keterlibatan Polri dalam forum akademik merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi yang sehat dengan kalangan muda dan dunia kampus.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai agen perubahan sosial sekaligus penjaga demokrasi di tengah derasnya perkembangan era digital yang membawa tantangan baru dalam kehidupan berbangsa.
“Polri ingin hadir lebih dekat dengan generasi muda melalui ruang-ruang dialog yang terbuka dan edukatif. Dengan sinergi yang baik antara mahasiswa, kampus, dan aparat, diharapkan lahir generasi yang kritis, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, di tengah tantangan global yang semakin kompleks, sinergi antara aparat keamanan dan kalangan akademisi menjadi langkah strategis dalam membangun ruang dialog yang sehat, kritis, dan solutif demi menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat pembangunan bangsa.
Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, forum tersebut memperlihatkan bahwa kampus masih dipandang sebagai ruang penting untuk merawat demokrasi, membangun kesadaran kebangsaan, dan menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masa depan Indonesia. (Red – Ho Polda Jateng)







