Peranannya dalam mendukung perjuangan kemerdekaan dan mencetak tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia tak dapat dipandang sebelah mata. Jasanya diabadikan dengan pemberian Bintang Mahaputra Adipradana pada Tahun 2009 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Pendidikan dan Pembentukan Kepemimpinan PB X
Sri Susuhunan Pakubuwana X, yang lahir pada 29 November 1866 dengan nama Raden Mas Gusti Sayidin Malikul Kusna, memiliki berbagai keahlian yang mendalam. Di antaranya adalah kesusastraan, agama Islam, seni, dan keahlian dalam berbagai bidang, termasuk kuda dan senjata. Tidak hanya itu, PB X juga mempelajari berbagai ajaran dari serat-serat piwulang Jawa, psikologi, serta bahasa Arab, Melayu, dan Belanda.

Menurut Pengageng Sasana Wilapa Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KP H Dany Nur Adiningrat, PB X memperoleh pendidikan yang sangat luas dan beragam yang membentuk dirinya menjadi pemimpin yang visioner.
“Kecemerlangan PB X tidak lepas dari bimbingan Pakubuwana IX. Sejak usia tujuh tahun, PB X sudah dilibatkan dalam pertemuan politik dengan pejabat Belanda,” ujar Kanjeng Dany, sapaan akrabnya.
Kemajuan Infrastruktur di Masa Pemerintahan PB X
Lebih lanjut, Kanjeng Dany mengungkapkan, setelah naik tahta pada 30 Maret 1893, PB X membawa Kraton Kasunanan Surakarta ke dalam era kemajuan yang pesat, terutama di bidang infrastruktur. Beberapa bangunan penting seperti Stasiun Solo Jebres, Taman Sriwedari, Pasar Gede, dan Tempat Potong Hewan merupakan hasil dari kebijakannya yang memprioritaskan pembangunan daerah.
“Pembangunan yang dilakukan PB X tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga berfokus pada pengembangan budaya dan kenyamanan masyarakat,” jelasnya.
Dukungan Terhadap Pergerakan Nasional
Di masa pemerintahannya, PB X memberikan dukungan besar terhadap kebangkitan nasional. Ia mendorong para bangsawan dan kerabatnya untuk mendukung organisasi-organisasi pergerakan seperti Budi Oetomo dan Syarikat Islam (SI), yang merupakan tonggak penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Salah satu bentuk dukungan PB X terhadap SI terlihat ketika Kongres SI tahun 1913 diselenggarakan di Taman Sriwedari, yang mendapat restu penuh dari PB X.
“PB X tidak hanya memfasilitasi, tetapi juga memberi dukungan secara terbuka dan diam-diam kepada pergerakan-pergerakan ini,” lanjut Kanjeng Dany.
Mendukung Pendidikan dan Mencetak Tokoh-Tokoh Terkenal
PB X juga sangat memperhatikan dunia pendidikan. Dari kantong pribadinya, PB X memberikan beasiswa kepada anak-anak pandai dari abdi dalem. Beberapa tokoh besar yang lahir dari beasiswa ini antara lain Prof. Dr. Mr. Soepomo, penyusun UUD 1945 dan Menteri Kehakiman, serta Prof. Dr. Mr. Wirjono Prodjodikoro, Ketua Mahkamah Agung Indonesia.
“PB X berperan besar dalam mencetak banyak tokoh yang kemudian memiliki kontribusi besar dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.
Strategi Politik Ngideri Buwono
Kanjeng Dany pun menjelaskan, salah satu kebijakan unik PB X adalah Ngideri Buwono, yang berarti berkeliling untuk menyerap aspirasi rakyat dan memperjuangkan kemerdekaan. Kebijakan ini mendapat kritik dari pemerintah kolonial Belanda, yang menganggapnya sebagai pemborosan.
Namun, PB X tetap teguh pada pendiriannya, karena ia percaya bahwa kebijakan tersebut sangat penting untuk menyuarakan aspirasi rakyat dan mendukung pergerakan kemerdekaan.
Penghargaan Sebagai Pahlawan Nasional
Setelah memerintah selama 46 tahun, PB X wafat pada 1939. Jasanya kemudian diabadikan dengan pemberian Bintang Mahaputra Adipradana pada tahun 2009 dan penetapan dirinya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
“PB X bukan hanya pemimpin Keraton Surakarta, tetapi juga pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia,” tutup Kanjeng Dany.
Dengan segala jasa dan perjuangannya, Pakubuwana X menjadi salah satu pahlawan yang tidak hanya memajukan Keraton Surakarta, tetapi juga turut membentuk perjalanan bangsa menuju kemerdekaan. @indonesiabuzz







