IndonesiaBuzz: Surakarta, 2 Juni 2024 — Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar prosesi sakral Jamasan Pusaka Nyai Setomi di Bangsal Witono, Sitinggil Lor, Senin (2/6/2024) pukul 10.00 WIB. Tradisi tahunan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Hajad Dalem menyambut Pareden Garebeg Besar yang akan digelar pada Sabtu, 7 Juni 2025.
Ritual Jamasan diawali dengan upacara Wilujengan, yang melibatkan puluhan Abdi Dalem. Prosesi ini ditandai dengan penyajian sesaji berupa hasil bumi dan tumpeng, sebagai bentuk penghormatan terhadap pusaka yang memiliki nilai spiritual dan historis tinggi bagi Kraton Surakarta.
Usai Wilujengan, para Abdi Dalem melanjutkan dengan pembersihan luar dan dalam Krobongan Bale Manguneng, tempat disimpannya meriam pusaka Nyai Setomi. Dengan penuh kehati-hatian, meriam tersebut dimandikan sebagai simbol perawatan sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.
Utusan Dalem Kraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Suparno Adiningrat, menegaskan bahwa Jamasan bukan sekadar ritual, melainkan pengejawantahan nilai budaya dan spiritual yang mendalam.
“Kita kempal kanthi manah suci, hangestreni adicara jamasan pusaka Meriam Nyai Setomi lan Kyai Brawijaya. Punika sanes namung upacara biyasa, nanging wujud panembah lan pangajab mugi-mugi pusaka punika tansah pinaringan berkah, dados jimat kagem karahayon lan kaslametanipun nagari,” ujarnya.
Setelah seluruh rangkaian prosesi selesai, pintu Krobongan kembali dikunci untuk menjaga kesakralan dan keberadaan pusaka tersebut.
Jamasan Pusaka ini bukan hanya bertujuan menjaga fisik pusaka, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta warisan nilai-nilai luhur Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Sebagai informasi, Nyai Setomi merupakan meriam peninggalan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memiliki pasangan bernama Kanjeng Kyai Setomo atau Meriam Si Jagur, kini berada di Museum Fatahillah, Jakarta. Kedua meriam bersejarah ini dahulu digunakan dalam perlawanan terhadap VOC di Batavia.
Prosesi Jamasan menjadi penanda penting bahwa Kraton Surakarta tidak hanya menjaga warisan benda, namun juga merawat ruh dan semangat budaya yang terus hidup hingga kini.







