IndonesiaBuzz: Humaniora – Rumah Joglo, sebuah ikon kebudayaan yang telah lama menjadi bagian dari keberagaman budaya Indonesia, kini menghadapi sorotan baru terkait asal-usulnya. Meskipun secara luas dikenal sebagai ciri khas Jawa Tengah, sebuah penelitian terbaru menyoroti bahwa akarnya sebenarnya berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.
Menurut Josef Prijotomo, seorang Dosen Arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dalam sebuah seminar online pada Kamis (25/5/2023), rumah Joglo sebenarnya berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.

“Dalam Serat Centhini (buku kesusastraan Jawa) itu dinyatakan bahwa bangunan di Surakarta itu mengacu kepada bangunan di Ponorogo,” ungkap Josef.
Josef mendorong para sejarawan dan arsitek Jawa Timur untuk memperjuangkan penegasan ini.
“Para sejarawan dan arsitektur asal Jawa Timur, berteriaklah! Katakan Joglo itu bukan dari Jawa Tengah. Joglo itu Ponorogo,” tegas Josef.
Rumah Joglo, atau dikenal sebagai Joglo Bucu di Ponorogo, memiliki makna mendalam yang terkait erat dengan kosmologi Jawa. Tata letak ruangan dan ornamen yang dipasang pada Joglo Bucu didasarkan pada konsep keseimbangan dan harmoni, mencerminkan keyakinan tentang hubungan manusia dengan alam semesta. Ornamen yang menghiasi Joglo Bucu mengandung simbol-simbol keindahan, kekuatan, dan kemakmuran.
Meskipun menjadi simbol status sosial masyarakat Jawa pada masa lampau, tidak semua masyarakat Jawa mampu membangun rumah Joglo karena bahan bangunan yang mahal, terutama kayu jati berkualitas tinggi yang digunakan untuk konstruksinya, serta biaya pembangunan yang tinggi dan waktu yang dibutuhkan yang cukup lama.
Rumah Joglo pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu Pendapa (bagian depan), Pringgitan (bagian tengah), dan Dalem (ruang utama).

Pendapa merupakan ruang terbuka di bagian depan rumah Joglo Bucu, sering digunakan untuk pertemuan keluarga, upacara adat, acara perayaan, dan kegiatan sosial lainnya.
Pringgitan, ruang tengah, digunakan sebagai ruang santai bagi keluarga dan tamu. Fungsinya memungkinkan anggota keluarga dan tamu untuk bersantai, bercengkerama, atau berbincang-bincang dalam suasana yang nyaman dan intim.
Dalem, atau ruang belakang, bersifat privat dan berfungsi sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi antara anggota keluarga. Dalem menjadi pusat kegiatan keluarga, seperti berdiskusi atau melakukan kegiatan sehari-hari, serta memberikan ruang yang nyaman dan tenang untuk interaksi pribadi tanpa gangguan dari tamu atau pengunjung.
Rumah Joglo dikenal dengan empat tiang penyangga atau soko guru di tengahnya yang lebih tinggi untuk menopang atap, serta hiasan yang banyak menampilkan ukiran alam, flora, dan fauna.
Ukiran pada rumah tersebut sering menggambarkan motif bunga mekar, disebut padma oleh orang Jawa, yang melambangkan kekokohan, kekuatan, dan kesucian dalam menghadapi berbagai permasalahan dan bencana.

Simbol-simbol yang terdapat di rumah tradisional Jawa mencerminkan petuah, harapan, filsafat kehidupan, budaya, kepercayaan, serta karakter dan sifat masyarakat Jawa.
Hingga kini, masyarakat Kabupaten Ponorogo masih mempertahankan denah rumah berbentuk persegi panjang dan bujur sangkar, sebagai simbol kedisiplinan dan ketegasan dalam menjalankan tanggung jawab atas kehidupan di dunia.
Konsep Tuhan, alam, dan manusia menjadi ciri khas filosofi kebudayaan Jawa yang tercermin dalam rumah Joglo, menegaskan keterikatan budaya Jawa pada tatanan sosial dan adat istiadat yang turun-temurun.
Nilai-nilai kebudayaan, hukum adat, mitos, kepercayaan, dan tata kelola membentuk kearifan lokal yang menjadi bagian penting dalam membentuk identitas khas suatu daerah. @wara-e







