Indonesiabuzz.com : Internasional, 8 Desember 2024 – Pada tanggal 31 Mei 1931, di kota Indianapolis, Negara Bagian Indiana, Amerika Serikat, lahir seorang bayi yang diberi nama James Warren Jones.
Dibesarkan hanya oleh ayahnya, James merasakan masa-masa dimana kesulitan ekonomi sedang melanda Amerika Serikat, yang disebut dengan Great Depression.
James tumbuh menjadi anak yang alim dan bahkan dirinya masuk dalam organisasi muda mudi di gerejanya. Karena begitu menyukai hal-hal tentang agama, James muda begitu terobsesi tentang berbagai hal tentang agama, kehidupan dan bahkan kematian. Bahkan di usianya yang masih belia, James sangat mendambakan untuk menjadi seorang Pendeta Muda. Dan dirinya pun berhasil meraih posisi tersebut di gerejanya.
Dia sering memimpin kegiatan keagamaan yang diikuti oleh kaum muda di gerejanya, seperti acara doa rutin, bahkan sampai upacara pemakaman hewan peliharaan.
Pada usianya yang ke 19, obsesi James yang begitu besar tentang keagamaan membuatnya berani mengaku bahwa dirinya memiliki kekuatan psikis, seperti meramal masa depan, menyembuhkan berbagai penyakit dengan doanya, dan bahkan James juga mengaku bisa ‘terbang’.
Banyaknya buku tentang komunisme dan sosialisme yang dibacanya, membuat James sanggup membuat dirinya menjadi disukai dan dikagumi banyak orang. Dirinya juga sangat mengidolakan tokoh-tokoh besar, seperti Stalin dan Hittler.
Kemudian pada tahun 1955, James mendirikan sebuah gerja yang dinamakan ‘People Stemple’.
Di dalam gerejanya tersebut, selain mengajarkan agama Kristen, James juga menyebarkan ideologi komunisme yang saat itu begitu ditentang oleh pemerintah Amerika Serikat. James yang memiliki wajah yang rupawan, badan tegap, dan cara bicara yang sangat kharismatik, berhasil menarik banyak jemaat untuk bergabung di gerejanya.

Karena semakin banyaknya pengikut, maka semakin banyak pula pundi-pundi uang yang masuk ke gerejanya James. Alhasil, lingkungan di sekitar gereja tersebut semakin makmur hingga akhirnya membuat James diangkat oleh pemerintahan Indianapolis sebagai Pemimpin Penegakan Hak Asasi Manusia di Indianapolis.
Dibalik kesuksesannya memerangi rasisme dan diskriminatif di kotanya, James meramalkan akan adanya perang nuklir di Amerika Serikat. Hal tersebut ia sebutkan akan membawa kiamat untuk seluruh jemaatnya.
Berdasar hal tersebut, James pindah ke Brasil. Namun disana, ajarannya dinilai sesat dan tidak membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.
Maka James kembali ke Amerika Serikat dan mendapati jemaatnya di Indianapolis telah banyak yang membubarkan diri. Kemudian James berpikiran bahwa negara bagian California adalah tempat yang bakal selamat dari perang nuklir yang dia ramalkan. Akhirnya pada tahun 1965, James bersama sisa jemaatnya yang masih setia padanya pindah ke California.
Setelah menetap di California, sekali lagi James berhasil mengumpulkan anggota yang semakin banyak. James bahkan mengaku sebagai Juru Selamat. Ada sesi rutin dimana James akan mendoakan orang yang sakit agar bisa sembuh seketika.
Para calon anggota baru yang akan masuk dalam lingkaran organisasinya, diharuskan untuk menyumbangkan seluruh harta yang dimiliki kepada James sang Juru Selamat, agar dapat selamat dunia akhirat. Bahkan James memiliki pengaruh dan kekuasaan untuk menjodohkan satu jemaat dengan jemaat yang lain, tanpa peduli bahwa apabila jemaatnya sudah memiliki pasangan. Bahkan James berhak untuk memiliki jemaat wanita yang menurutnya menarik, meskipun jemaat tersebut telah memiliki suami.
James juga berhak untuk mengatur sebanyak apa makanan yang boleh dimakan oleh jemaatnya. Apabila ada yang melanggar, maka James memberikan hukuman dengan menyita apapun yang dimiliki oleh jemaat yang melanggar.
Hal tersebut membuat beberapa jemaatnya melarikan diri dan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di lingkup gerejanya James. Hal itu membuat James membangun pertahanan dengan mempersenjatai para pengawalnya dengan senapan api.
Dengan kekayaan yang begitu besar, kemudian James memindahkan gerejanya ke San Fransisco, Amerika Serikat. Di tempat yang baru tersebut James berhasil membangun jaringannya menjadi semakin besar.
Jaringan yang dibentuk oleh James ini meliputi ke orang-orang pemerintahan, tokoh masyarakat, hingga artis terkenal pada masa itu. Hal ini membuat James memiliki kekuatan untuk membuat segala laporan tentang dirinya oleh jemaatnya yang telah keluar dari organisasinya, menjadi tidak berarti atau menghilang begitu saja.
Namun begitu, James yang sangat pandai akhirmya memutuskan mencairkan semua aset gerejanya dan mengajak para pengikut setianya untuk pindah ke negara Guyana pada tahun 1977.

Negara Guyana pada waktu itu wilayahnya masih banyak terdiri dari hutan. Setelah James sampai di Guyana, ia memerintahkan pasukan bersenjatanya unyuk menyita paspor milik para jemaatnya dan memaksa jemaatnya untuk bekerja membangun berbagai fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, dan tentu saja geraja.
Selama di Guyana, James mendoktrin jemaatnya dengan berbagai cara demi membangun loyalitas dan rasa takut kepadanya. Bahkan James sering mengadakan acara dadakan yang dinamakan The White Night.
Di acara tersebut, semua jemaatnya akan dipaksa untuk meminum jus yang sebelumnya telah ia katakan bahwa di dalam gelas-gelas jus tersebut, ada beberapa gelas diantaranya terdapat racun sianida di dalamnya. Dengan penuh paksaan, semua jemaatnya meminum gelas yang disodorkan, namun ternyata tidak ada yang keracunan.
Kebusukan yang disembunyikan oleh James dari dunia, akhirnya tercium. Pasalnya Amerika Serikat mengutus seorang Anggota Kongres California bernama Leo Ryan untuk berkunjung ke kota yang telah dibangun oleh James di Guyana, pada 17 November 1978. Leo datang bersama seorang jurnalis NBC.
Kedatangan Leo di kotanya James disambut dengan riuh oleh jemaat James, termasuk oleh James sendiri. Bahkan pada malam harinya James mengadakan pesta makan untuk menyambut Leo, demi menutupi kebusukannya.
Esok harinya, ada sepasang suami istri bernama Edith dan Gerald yang memasukkan selembar kertas ke saku jurnalis. Setelah dibaca, ternyata pasutri tersebut memohon untuk ikut Leo pulang ke Amerika Serikat. Leo yang mengetahui hal tersebut serta merta menyetujui. Mengetahui hal tersebut, sebanyak 33 orang juga mengajukan diri untuk ikut pulang bersama Leo.
James tak bisa menolak keinginan para anggotanya untuk pulang ke Amerika Serikat karena dirinya selalu disorot oleh kamera.
Namun ketika Leo, jurnalis dan 35 orang jemaat James akan naik pesawat, tiba-tiba pesawat mereka ditembaki oleh pasukan James. Akibatnya 8 orang meninggal dunia termasuk Leo dan jurnalis.
Kemudian pada hari yang sama, James mengumpulkan seluruh jemaatnya di balai kota dan memaksa seluruh jemaatnya untuk meminum jus. Dengan sangat terpaksa dan karena dibawah ancaman senjata, seluruh jemaat James termasuk anak-anak, meminum jus tersebut.
Alhasil mereka semua mati jarena keracunan sianida. Melihat hal itu, pasukan bersenjata yang sangat setia kepada James kemudian menembakkan senjatanya ke kepala masing-masing, dan terakhir disusul oleh James yang turut menembak kepalanya sendiri.
Tercatat ada 918 nyawa melayang akibat penembakan dan ritual minum jus sianida di Guyana. (Puthut-Red)
* Berita ini ditulis dari berbagai sumber.







