IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 1 Agustus 2026 – Kawasan Geopark Bojonegoro memasuki tahapan penting dalam upaya meraih pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Dua asesor internasional dari Jerman dan China telah menyelesaikan asesmen lapangan dan validasi Aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) selama empat hari, mulai 28 hingga 31 Juli 2026.
Proses evaluasi tersebut ditutup melalui seremoni di Gedung Putih Kompleks Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jumat (31/7/2026) malam. Tahapan ini menjadi penentu dalam mengukur kesiapan Geopark Bojonegoro untuk bergabung dalam jaringan geopark dunia yang berada di bawah naungan UNESCO.
Selama proses asesmen, tim asesor melakukan peninjauan langsung terhadap berbagai situs geologi, keanekaragaman hayati, serta kekayaan budaya lokal yang menjadi kekuatan utama Geopark Bojonegoro. Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kelengkapan dokumen administratif, tata kelola kawasan, hingga implementasi pemberdayaan masyarakat di lapangan.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menyatakan optimistis Geopark Bojonegoro mampu memenuhi standar yang ditetapkan UNESCO dan memperoleh pengakuan sebagai bagian dari jaringan geopark dunia.
Menurutnya, kehadiran tim asesor menjadi kesempatan berharga bagi pemerintah daerah untuk terus menyempurnakan tata kelola dan pengembangan kawasan sesuai standar internasional.
“Fokus utama dari seluruh rangkaian ikhtiar ini bukan sekadar mengejar status, melainkan menghadirkan manfaat riil bagi kesejahteraan warga setempat. Keanekaragaman geologi dan budaya lokal, seperti tradisi masyarakat Samin, diharapkan mampu menjadi mesin penggerak ekonomi baru melalui sektor pariwisata berkelanjutan dan edukasi,” ujar Wahono.
Apresiasi juga disampaikan perwakilan tim asesor UNESCO Global Geopark asal Jerman, Andreas Josef Schuller. Ia menilai Geopark Bojonegoro memiliki kekuatan pada aspek geomorfologi dan warisan budaya yang menjadi nilai penting dalam pengembangan kawasan geopark berkelas dunia.
“Geopark Bojonegoro menyimpan keunggulan aspek geomorfologi dan warisan budaya yang sangat kuat,” kata Andreas.
Meski demikian, Andreas menegaskan masih terdapat sejumlah aspek yang perlu terus disempurnakan. Menurutnya, tidak ada geopark yang sepenuhnya sempurna, sehingga proses pengembangan harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Tidak ada geopark yang sempurna. Selalu ada ruang untuk perbaikan dan pengembangan. Berdasarkan diskusi yang telah dilakukan, terdapat beberapa hal yang masih dapat ditingkatkan oleh tim pengelola,” ujarnya.
Hasil asesmen lapangan tersebut selanjutnya akan dirumuskan dalam laporan evaluasi resmi yang disusun secara objektif dan profesional. Dokumen itu akan disampaikan kepada UNESCO sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam penetapan status akhir Geopark Bojonegoro sebagai UNESCO Global Geopark.
Dalam rangkaian penilaian, tim asesor mengunjungi sejumlah geosite dan destinasi pendukung, di antaranya Tambang Tradisional Wonocolo, Kayangan Api, Kebun Belimbing Ringinrejo, Kampung Samin, Kedung Lantung Sukosewu, Museum 13 Panjunan, serta beberapa situs geologi, budaya, dan wisata lainnya.
Apabila berhasil memperoleh pengakuan UNESCO, Geopark Bojonegoro diharapkan mampu meningkatkan daya saing pariwisata daerah, memperkuat upaya pelestarian warisan geologi dan budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan komunitas lokal.







