IndonesiaBuzz: Wanita — Di era digital yang serba visual, penampilan menjadi hal pertama yang dilihat dan—tak jarang—diadili. Media sosial dipenuhi OOTD (Outfit of The Day), tren fesyen berganti secepat swipe jempol, dan standar “pantas” kerap ditentukan algoritma. Tapi di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan penting: kamu berpakaian untuk siapa? Untuk dirimu, atau untuk validasi orang lain?
Lebih dari Sekadar Tren
Fenomena “dress to impress” sudah lama membentuk cara kita melihat pakaian. Istilah ini merujuk pada kebiasaan berpakaian demi tampil menarik di mata orang lain—baik untuk diterima secara sosial, mendapatkan perhatian, maupun dianggap ‘layak’ oleh lingkungan.
Namun kini, semakin banyak orang—khususnya generasi muda—yang mulai menggeser perspektif tersebut menjadi “dress to express”: berpakaian sebagai ekspresi diri, bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar pujian.
“Pakaian adalah medium komunikasi yang paling instan. Saat kamu berpakaian dengan gaya yang kamu sukai, kamu sedang mengatakan sesuatu tanpa perlu bicara,” ungkap Naya Pradipta, fashion stylist dan content creator yang aktif mengampanyekan gaya personal melalui platform digitalnya.
Ekspresi Diri adalah Identitas
Berpakaian seharusnya memberi ruang bagi keunikan, bukan tekanan untuk seragam. Pilihan warna, siluet, motif, hingga cara memadupadankan item fashion, semuanya merefleksikan siapa kita—apa yang kita suka, nilai yang kita pegang, bahkan suasana hati.
Penelitian dari Journal of Experimental Social Psychology menyebutkan bahwa apa yang kita kenakan dapat memengaruhi persepsi diri dan rasa percaya diri. Artinya, mengenakan pakaian yang terasa “kita banget” tidak hanya menyenangkan secara estetika, tapi juga memperkuat psikologis.
Tekanan Sosial dalam Gaya Berpakaian
Sayangnya, standar kecantikan dan gaya berpakaian masih sering dikontrol oleh ekspektasi sosial. Banyak yang merasa tidak ‘cukup trendi’, ‘terlalu nyentrik’, atau bahkan ‘salah kostum’ hanya karena tidak sesuai dengan standar mayoritas.
“Kalau kita terus-menerus berpakaian untuk menyenangkan orang lain, kita sedang menaruh harga diri di tangan luar,” kata Naya. “Padahal, kenyamanan dan rasa percaya diri seharusnya datang dari dalam.”
Bergerak Menuju Fashion yang Otentik
Gerakan “dress to express” juga selaras dengan semangat keberagaman dan inklusivitas. Tidak ada lagi satu tipe tubuh, satu gaya rambut, atau satu warna kulit yang mendefinisikan cantik atau layak tampil. Semua orang bebas mengekspresikan diri—termasuk lewat pakaian.
Kini, banyak brand lokal dan desainer muda yang merancang busana berdasarkan fungsi, kenyamanan, dan keunikan pribadi, bukan hanya mengikuti runway global. Mereka membuka ruang bagi konsumen untuk tampil apa adanya, bukan “apa yang diinginkan orang lain”.







