IndonesiaBuzz: Ngawi, 20 September 2026 – Keterbatasan anggaran tak menghalangi atlet-atlet muda Sasana Soerjo Ngawi untuk menunjukkan kemampuan di level Jawa Timur. Turun dengan hanya lima atlet pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Indonesia Beladiri Campuran Amatir (IBCA) MMA Sirkuit 3 di GOR Soekarno Hatta, Kota Blitar, seluruhnya berhasil membawa pulang medali.
Lima atlet binaan pelatih Didit Koko Nugroho itu mengoleksi dua medali emas, dua perak, dan satu perunggu.
Kejurprov IBCA MMA Sirkuit 3 berlangsung selama empat hari, 17 hingga 20 September 2026. Ajang tersebut diikuti sekitar 500 atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Bagi Sasana Soerjo Ngawi, capaian tersebut menjadi catatan penting dalam proses pembinaan atlet muda. Sebagian besar atlet yang diturunkan merupakan pelajar yang tengah dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Jawa Timur 2026.
Pelatih IBCA MMA Ngawi, Didit Koko Nugroho, mengatakan keikutsertaan di Kejurprov bukan semata-mata untuk mengejar medali. Pertandingan tersebut juga menjadi kesempatan bagi atlet untuk mengukur kemampuan sekaligus menambah jam terbang.
“Ya, memang di kejuaraan ini kita kembali menurunkan atlet yang kita siapkan untuk POPDA besok. Dari hasil ini nanti akan kita evaluasi lagi,” ujar Didit, Minggu (20/9/26).
Menurut Koko, pengalaman bertanding di tingkat provinsi menjadi bagian penting dalam pembentukan mental atlet. Para atlet yang masih berstatus pelajar dituntut mampu beradaptasi dengan tekanan pertandingan sekaligus menghadapi lawan dari berbagai daerah.
Di balik lima medali yang diraih, terdapat keterbatasan yang harus dihadapi Sasana Soerjo Ngawi.
Sebenarnya, masih banyak atlet yang dinilai siap mengikuti Kejurprov IBCA MMA Sirkuit 3. Namun, keterbatasan anggaran membuat sasana tersebut tidak dapat memberangkatkan seluruh atlet.
“Ya sebenarnya masih banyak atlet kita yang terpaksa tidak kita ikutkan. Ini karena anggaran kita untuk kejuaraan ini sangat terbatas. Maka kita cuma memberangkatkan atlet yang sangat butuh jam terbang,” ungkap Koko.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari strategi pembinaan. Lima atlet yang diberangkatkan dipilih tidak hanya berdasarkan target perolehan medali, tetapi juga kebutuhan untuk mendapatkan pengalaman bertanding sebelum menghadapi kompetisi yang lebih besar.
Hasilnya cukup positif. Kelima atlet mampu bersaing di tingkat Jawa Timur dan semuanya berhasil membawa pulang medali.
Meski demikian, Koko menegaskan capaian tersebut bukan akhir dari proses pembinaan. Hasil pertandingan di Blitar akan menjadi bahan evaluasi untuk memetakan kekurangan atlet sebelum tampil di POPDA Jatim 2026.
“Yang penting anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding. Dari sini kita bisa melihat apa yang masih kurang, baik teknik, fisik maupun mental. Itu yang akan kita benahi,” katanya.
Tambahan lima medali dari Blitar sekaligus memperpanjang catatan prestasi atlet combat sport binaan Sasana Soerjo Ngawi.
Selama ini, sasana tersebut menjadi salah satu wadah pembinaan atlet combat sport di Ngawi. Para atlet muda didorong untuk mengikuti berbagai kejuaraan sebagai bagian dari proses membangun pengalaman dan mental bertanding.
Bagi atlet pelajar, setiap pertandingan bukan sekadar persoalan menang atau kalah. Pengalaman di atas arena menjadi bagian dari proses membentuk keberanian, disiplin, mental bertanding, sekaligus kemampuan mengendalikan diri.
Lima medali dari Kejurprov IBCA MMA Sirkuit 3 menjadi modal bagi Sasana Soerjo Ngawi untuk melanjutkan persiapan menuju POPDA Jawa Timur 2026.
Namun, bagi tim pelatih dan para atlet, pekerjaan belum selesai. Masih ada sejumlah aspek yang harus dibenahi, mulai dari teknik, fisik hingga mental bertanding.
Medali menjadi hasil dari sebuah pertandingan. Sementara bagi para atlet muda Sasana Soerjo, pengalaman dan jam terbang yang diperoleh dari setiap pertarungan menjadi bekal penting untuk melangkah menuju panggung prestasi yang lebih besar. (Esaputra /Koresponden Ngawi).





