IndonesiaBuzz: Kesehatan – Tahukah kamu? Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan kadar arsenik dalam beras. Temuan ini menjadi perhatian serius, mengingat beras merupakan makanan pokok bagi miliaran orang di Asia, termasuk Indonesia.
Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan dari Columbia University, bekerja sama dengan Johns Hopkins University dan Akademi Ilmu Pengetahuan China. Mereka menemukan bahwa jika suhu bumi meningkat lebih dari 2 derajat Celsius disertai dengan naiknya kadar karbon dioksida (CO₂), tanaman padi dapat menyerap lebih banyak arsenik dari tanah.
Kondisi ini berbahaya karena arsenik, terutama jenis arsenik anorganik (iAs), jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit kronis. Mulai dari penyakit jantung dan diabetes, hingga kanker seperti kanker paru-paru dan kandung kemih.
Risiko Penyakit Meningkat
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa peningkatan kadar arsenik ini dapat secara signifikan meningkatkan kejadian penyakit jantung, diabetes, dan dampak kesehatan non-kanker lainnya,” ujar Lewis Ziska, Ph.D., profesor madya di Mailman School of Public Health, dikutip dari Phys, Jumat (18/4/2025).
Para peneliti memperkirakan bahwa kondisi ini dapat berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat Asia pada tahun 2050. Di China saja, diprediksi akan ada lebih dari 13 juta kasus kanker yang terkait dengan konsumsi beras yang mengandung arsenik.
“Karena beras merupakan makanan pokok di banyak negara, perubahan ini berpotensi meningkatkan beban global terhadap penyakit kanker, penyakit kardiovaskular, dan masalah kesehatan lain yang berhubungan dengan arsenik,” tambah Ziska.
Perubahan Iklim Ubah Kandungan Kimia Tanah
Mengapa kadar arsenik bisa meningkat? Menurut peneliti, perubahan iklim memengaruhi kondisi kimia tanah, sehingga tanaman padi lebih mudah menyerap arsenik ke dalam bulir beras. Penelitian ini dilakukan selama lebih dari satu dekade dengan menggunakan teknologi canggih untuk mensimulasikan kondisi iklim masa depan.
“Dari perspektif kesehatan, efek toksik dari paparan iAs kronis sudah diketahui dengan baik. Ini mencakup kanker paru-paru, kandung kemih, dan kulit, serta penyakit jantung iskemik. Bukti juga menunjukkan kaitan dengan diabetes, gangguan kehamilan, perkembangan saraf, dan sistem kekebalan tubuh,” jelas Ziska.
Menggunakan Teknologi Mutakhir
Tim peneliti menggunakan metode FACE (Free-Air CO₂ Enrichment) serta menggabungkan teknik pemodelan canggih untuk menganalisis data. Mereka kemudian memperkirakan dosis paparan arsenik anorganik dan risiko kesehatannya di tujuh negara Asia, yakni Bangladesh, China, India, Indonesia, Myanmar, Filipina, dan Vietnam.
Perkiraan konsumsi beras berdasarkan data tahun 2021 dari masing-masing negara digunakan sebagai dasar perhitungan. Sementara itu, standar deviasi konsumsi beras per kilogram berat badan mengacu pada data Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) untuk membentuk distribusi konsumsi yang lebih akurat.
Solusi dan Langkah Pencegahan
Meski ancaman ini nyata, para peneliti juga menawarkan sejumlah solusi. Beberapa di antaranya adalah dengan mengembangkan varietas padi yang mampu menyerap arsenik lebih sedikit, menerapkan pengelolaan sawah yang lebih baik, serta meningkatkan edukasi masyarakat mengenai bahaya arsenik dalam beras.
“Berdasarkan temuan kami, kami yakin ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi paparan arsenik di masa mendatang,” kata Ziska.
Langkah-langkah tersebut meliputi upaya pemuliaan tanaman untuk menekan penyerapan arsenik, perbaikan dalam pengelolaan tanah, serta praktik pengolahan beras yang lebih aman. Selain itu, edukasi kepada masyarakat dan pemantauan kadar arsenik secara berkala sangat penting dilakukan.
“Studi kami menegaskan pentingnya tindakan segera untuk mengurangi paparan arsenik dalam beras, terutama karena perubahan iklim terus berdampak pada ketahanan pangan global,” pungkas Ziska.
Jadi dari peneliatian ini bisa ditarik kesimpulan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada cuaca ekstrem seperti panas dan banjir, tetapi juga bisa memengaruhi makanan sehari-hari yang kita konsumsi. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya demi bumi, tapi juga demi kesehatan kita sendiri.







