IndonesiaBuzz: Banjarnegara, 27 Mei 2026 – Tradisi Idul Adha di Desa Batur kembali mencuri perhatian publik nasional. Desa yang berada di kawasan dataran tinggi Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah itu sekali lagi menegaskan reputasinya sebagai salah satu wilayah dengan jumlah hewan kurban terbanyak di Indonesia.
Pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/26) warga Desa Batur berhasil menghimpun total 399 ekor hewan kurban yang terdiri dari 53 ekor sapi serta 346 ekor kambing dan domba. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencatat sekitar 350 ekor hewan kurban.
Fenomena paling mencolok terlihat di kawasan Krajan yang meliputi Dusun Batur Kidul, Batur Tengah, dan Batur Lor. Di wilayah inilah pusat penyembelihan hewan kurban berlangsung dengan skala yang nyaris menyerupai sentra distribusi daging skala besar.
Aula Madrasah Diniyah Muhammadiyah setempat bahkan berubah menjadi “lautan daging”. Tumpukan potongan daging memenuhi ruangan berukuran 18 x 10 meter dengan tinggi mencapai lutut orang dewasa sebelum dikemas dan dibagikan kepada warga.
Yang membuat tradisi ini semakin menarik, keberhasilan menghimpun ratusan hewan kurban bukan berasal dari segelintir warga kaya, melainkan hasil budaya gotong royong dan sistem iuran kolektif masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun selama puluhan tahun.
Warga Desa Batur diketahui menyisihkan sebagian penghasilan mereka secara rutin sepanjang tahun untuk tabungan kurban. Mekanisme iuran pun disesuaikan dengan profesi masing-masing warga.
Pedagang pasar, misalnya, menyetor iuran setiap lima hari sekali mengikuti siklus hari pasaran Jawa. Sementara petani sayur menyisihkan hasil panen mereka setiap musim panen tiba. Dana kolektif tersebut kemudian dikumpulkan dan dibelikan hewan kurban menjelang Idul Adha.
Sistem distribusi daging di desa ini juga tergolong unik dan berbeda dibanding mayoritas daerah lain di Indonesia. Jika umumnya pembagian dilakukan berdasarkan kepala keluarga menggunakan kupon, panitia di Desa Batur menggunakan sistem “cacah jiwa” atau berdasarkan jumlah individu.
Artinya, setiap warga mendapat hak yang sama tanpa memandang usia. Lansia, anak-anak, hingga bayi yang masih berada dalam kandungan tetap dihitung sebagai penerima daging kurban.
Setiap individu menerima paket daging sekitar tiga kilogram. Setelah kebutuhan seluruh warga desa terpenuhi, sisa ribuan paket daging kemudian disalurkan ke desa-desa sekitar hingga luar kabupaten melalui lembaga sosial seperti Lazismu untuk membantu wilayah dengan tingkat konsumsi daging rendah.
Tradisi kurban massal di Desa Batur tidak sekadar menjadi ritual keagamaan tahunan, tetapi juga menggambarkan kuatnya solidaritas sosial dan ekonomi komunal masyarakat pedesaan.
Di tengah meningkatnya individualisme masyarakat modern, warga Desa Batur justru menunjukkan bahwa budaya gotong royong yang dijaga secara konsisten mampu menghadirkan pemerataan sosial, memperkuat kohesi masyarakat, sekaligus menciptakan kesejahteraan kolektif yang nyata.
Fenomena “banjir daging” di kaki dataran tinggi Dieng ini pun menjadi potret bagaimana nilai keagamaan, solidaritas sosial, dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan membangun kehidupan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan. (Furkhan W/Koresponden Banjarnegara)







